Minggu, 18 Mei 2014

DIA LAHIR KEMBALI

DIA LAHIR KEMBALI

Tenang melangkahkan kaki sedikit menyeret kelebihan ujung celananya menuju arah tak jelas, bermodalkan mata yang sedang sembab melihat setitik cahaya pengharapan di ujung jalan kelam dan menyepi. Tangan terikat tali besi bergembok mencoba menahan gerakan untuk bebas sebebas gerakan ahli bela diri. Tak mungkin dan tak bisa, walau sebentar langkahnya tak bisa dihentikan karena disisi kiri dan kanan memantau setiap perubahan waktu disekitar.

Huuuhhf, helahan nafas berat terasa dekat di daun telinga yang memasang jaringan pemantau suara. Hanya dengan helahan nafas lah berat kehidupan yang dijalani terasa ringan seingan kapas yang terbasahi oleh rintihan hujan. Sedikit lagi akan sampai, sedikit lagi akan sampai, sedikit lagi akan sampai. Kalimat itu terus diulangi setelah hhuuuhhff dikeluarkan dari rongga mulut penuh kehangatan mungkin karena suhu tubuhnya sedang naik pertanda sakit melanda.

Semakin lama jalannya mencapai ujung jalan mempertemukan mereka dengan cahaya mentari bersinar megah di atas langit. Cahaya bagi sebahagiaan orang merupakan karunia untuk sesaat menyakitkan matanya hingga dua bola mata itu dipejamkan perlahan, lambat-lambat kulit penutup mata diangkat mencoba menerima perih sinar yang menerjang wajah.

Dua pasang mata tadi menatap ke tali besi yang mengikat tangannya dan memasukkan sebongkah besi ke lobang tali tersebut. Tak berapa lama tali itu pun lepas, seketika dua tangan itu dikipaskan memutar. Seperti gerakan senam mencoba membiasakan gerakan yang telah lama kaku akibat kebekuan ikatan besi. Lalu, mereka tersenyum padanya, ntah lah apa arti semua ini. Analisa matematis terngiang di dalam kepala merumuskan arti dari tingkah pola aneh dua insan yang selama ini menemani tubuhnya dengan kelembutan dari kerasnya tindakan.

Sudahlah, cukup sudah kemesraan selama ini sekarang duniamu akan berubah begitu juga dunia kami. Langkah itu menjauh dan hilang dibalik tembok besar yang besarnya baru diketahui saat itu. Kraakkk, bunyi hasil gesekan pintu besi bertemu besi akibat karatan bertahun-tahun menutupi pandangan dan memisahkan dunia luar dan dunia di dalamnya.

Teringat kata filsuf kehidupan mengatakan seseorang terkadang merasakan kelahiran kembali walau dia msih hidup. Apakah ini bagian kehidupan baru?? Semoga menjadi awal tubuhan yang tumbuh dari bibit dengan kehijauan dedaunannya.


Senyum pun terpasang setelah tubuh itu dibelai angin sepoi-sepoi dari arah barat. Seakan simbol yang menandakan arti rumit untuk segera dipecahkan dengan hasil kesenjaan di ufuk barat. Mentari tadi yang menyiksa mata sayunya perlahan pergi ke pembaringan berselimutkan kegelapan malam.


padang, 10 september 2013
Share:

0 komentar:

Posting Komentar