Jumat, 16 Mei 2014

GALAUNYA INJURY TIME

GALAUNYA INJURY TIME
Oleh Andrian Habibi

Pemilu 2014 akan berlangsung, penentuan bagi yang duduk atau nan taduduak. Setelah semua perjuangan dilakukan oleh para caleg, mulai dari blusukan hingga kampanye terbuka.
Cetak kartu nama, spanduk, baliho, stiker, atau men-cat mobil dengan warna mencolok plus gambar sang caleg. Realitanya, hanya yang bermodal lebih banyak terlihat mata. Bagi caleg sederhana, mereka lebih memilih program blusukan dan diskusi serta sesekali mengikuti program orang lain.
Hanya saja ada satu hal yang sama baik caleg kaya maupun caleg miskin yaitu sama-sama mengusir hantu dari tempat tinggalnya. Hantu identik dengan pohon dan tempat-tempat angker dan menyeramkan.
Selama masa kampenye, semua hantu se-indonesia diusir sementara waktu karena tempat yang biasa ditinggali telah menjadi rumah para atribut caleg. Banyak gambar caleg menempel disemua jenis pohon, rumah yang tak berpenghuni bahkan jalan ke hutan.
Entah kenapa, terkadang kita malah takut dikala malam melihat gambar-gambar caleg yang bergelantungan di pohon-pohon. Hal ini dirasakan selama masa kampanye hingga hari tenang. Para caleg memasangs emua atribut kampanye dahulu tanpa peduli apakah melanggar peraturan pemilu atau tidak.
Hari tenang dimulai dari tanggal 6, 7 dan 8 april 2014. Sesuai UU No.8 tahun2012, selama masa tenang maka semua atribut kampanye harus dibersihkan. Atribut kampanye yang masih bertebaran selama masa tenang membuktikan ketidak adilan pemilu. Pertanyaannya, apakah setiap caleg beserta tim pemenangan mau membersihkan sendiri apa yang sudah dipasangnya dahulu?
Khairul Fahmi, Dosen Hukum Tata Negara UNAND mengatakan bahwa “sangat jauh dari kepercayaan kalau para caleg mau membersihkan semua atribut kampenye selama hari tenang”. Caleg dan tim kampanye merasa enggan untuk bekerja dengan alasan pembersihan atribut merupakan pekerjaan Satuan Pol PP dan Panwaslu.
Disinilah mulai ajang galau, pertama dimulai dengan galaunya para caleg. Memasang atribut sekehendak hati tapi membersihkannya susah. Karna dana pemasangan dan pembersihan atribut dinilai sama besar. Dana yang ada rata-rata sudah habis bahkan terhutang terkecuali bagi caleg yang kaya.
Galau yang kedua menimpa pihak pol pp, mau membersihkan atribut kampanye caleg seluruh wilayah pemerintahan kabupaten/kota. Jumlah personil yang tak memadai plus dana yang macet menjadi alasan meng-galau dalam pembersihan atribut kampanye. Selain itu, jarak tempuh serta kondisi alam dengan waktu 3 hari dinilai menambah kegalauan POL PP membersihkan atribut kampanye.
Pihak yang galau selnjutnya adalah Panwalu Kabupaten/kota, harus menegakkan hukum sebagai pengawas pemilu tapi tidak memiliki kekuatan besar dalam membersihkan atribut kampanye caleg. Rapuhnya UU pemilu ini menjadi dilema tak berkesudahan bagi panwaslu beserta jajarannya.
Ingin hati menindak, apalah daya kuasa tak diberikan. Jika dilihat dari kaca mata hukum administrasi negara, ada kebijakan yang bisa dilakukan panwaslu berdasarkan “kebebasan bertindak”. Kebebasan bertindak ini merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menindak lanjuti peraturan pemilu yang tidak dibunyikan secara tegas oleh UU Pemilu.
Selain itu Kahirul Fahmi juga menyatakan, Penyelenggara Pemilu juga mengemban janji sumpah yang salah satunya menyatakan “melaksanakan UU”. UU pemilu mengatakan bahwa selama hari tenang atribut kampanye sudah harus diberihkan.

Pendapat Bapak Dosen ini memberikan semangat bagi Bawaslu beserta jajarannya menciptakan kebijakan dengan mencatat parpol yang tidak mau membersihkan alat peraga kampanye. Lalu identifikasi dan analisa selama tanggal 6 dan 7 april. selanjutnya Panwaslu mengeluarkan rekomenasi bahwa terjadi pelanggaran administrasi pemilu dalam Sentra Penegakan Hukum Terpadu.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar