Rabu, 21 Mei 2014

KOMERSIALISASI PERSONAL SAAT RAMADHAN

KOMERSIALISASI PERSONAL SAAT RAMADHAN
Oleh : Andrian Habibi

Puasa adalah bulan penuh hikmah, penuh pengampunan, penuh berkah dan bisa menjadi peluang memperbesar keberkahannya bagi yang dapat memamfaatkannya.

Cara memamfaatkan bulan ramadhan dengan ‘komersialisasi personal’ (penjualan diri) oleh para calon legislative (baca; caleg). Penjualan diri lebih identik dengan konotasi negative dari pada yang berbau positif! Indikator penilaian baik buruknya terletak pada tanggapan masyarakat atas penjualan diri para calon pemimpin bangsa yang mewakili rakyat.

Penilaian negative diberikan kepada sipenjual (komersialisasi diri), apabila penjualannya tidak sesuai dengan kepribadian yang dijual. Dan sebaliknya akan bernilai positif jikalau ikaln yang dijual sesuai dengan realitias keseharian yang dijual.

Selanjutnya, Bisakah penjualan diri (komersialisasi personal) dapat menjadi proyek besar yang mengikutsertakan berbagai elemen? Jawabannya adalah bisa. Komersialisasi diri merupakan penjualan diri secara tersendiri maupun berkelompok demi mendapatkan nilai tambah atau nilai tukat yang sepadan dari orang lain.

Tujuannya adalah orang atau kelompok lain mengenal produk yang dijual dan dapat mengkonsumsi konsep atau ide yang dijual tersebut untuk meningkatkan popularitas penjualannya.

Pada tahun politik saat ini, peningkatan popularitas personal menjadi penting untuk diperebutkan dengan dasar meningkatkan hubungan emosional personal maupun kelompok. Diperlukan keahlian dalam mengkomunikasikan pemasaran politik sebagai upaya suksesi komersialisasi personal.

Menurut Djasmin Saladin (2001; 123) Komunikasi Pemasaran merupakan suatu aktivitas yang merupakan upaya untuk menyebarkan informasi, mempengaruhi, membujuk atau mengingatkan pesan kepada sasaran agar mereka bersedia untuk membeli serta loyal terhadap apa yang ditawarkan tersebut.

Komersialisasi personal  saat ini menjadi “seleb dadakan”, bagaikan artis yang naik daun sebagai pusat perhatian selebriti, bagi setiap orang. Penyebabnya adalah jangka waktu yang lama pada tahun politik (hamper setahun) memaksa personal-personal (selanjutnhya baca caleg) lebih kreatif dalam menjual dirinya ke khalayak umum. Tahun politik berpeluang mencatat sejarah kretafitas komersialisasi diri para caleg.

Berbagai cara dilakukan dengan pelbagai metode dan media komersil yang tentu saja memberikan pengaruh tinggi dalam pencapaian misi caleg sendiri. Komersialisasi diri memberikan posisi pertama untuk facebook dan twitter sebagai media komersil untuk peningkatan elektibilitas diri caleg.

Komersialisasi diri berlanjut ke media massa seperti Koran atau majalah hingga media audio (radio) bahkan menrambah ke iklan di televise. Setiap “penjualan”dipercaya meningkatkan nilai tambah dari caleg.
Hasil dari komersialisasi caleg ini bisa menimbulkan afek negative dan positif, tergantung darimana audience melihat secara komprehensif “produk” yang dijual tersebut.

Demikian pula dengan poster poster atau spanduk dari para caleg yang marak di saat pemilu, itu juga merupakan bagian dari komunikasi pemasaran. Pada intinya isi pesan mereka adalah agar para calon pemilih mengetahui platform kepartaian mereka dan tentunya diharapkan untuk mau mendukung dan memilihi caleg atau partai yang bersangkutan, saat pemilu tiba.

Untuk meyakinkan calon pemilihnya, bahkan salah satu partai besar pada waktu itu bahkan berani menggulirkan gagasan kontrak politik yang siap menarik anggotanya di dewan bila tak mampu menjalankan amanah partai.
Mantan dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) Firmanzah mengatakan, semua politisi bisa menekan biaya berpolitiknya. Dengan catatan, politisi tersebut memiliki dan memahami modal utamanya, yakni modal sosial.

Dalam berpolitik, kata Firman, yang juga Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, setiap politisi harus memiliki peta kekuatannya sendiri, termasuk keunggulan pribadinya dan konstituen di daerah pemilihan. Mereka disarankan tampil sebagai agen perubahan dan mampu menggunakan kekuatan partai yang menjadi kendaraan politiknya (kompas.com, kamis 30 mei 2013).

Pentingnya Bulan Puasa
Setiap ummat islam termasuk para caleg melaksanakan ibadah puasa secara massif diseluruh penjuru dunia di bulan ramdahan pada penanggalan hijiriyah.

Ibadah yang dilakukan baik secara pribadi maupun kelompok akan dihadiahi dengan peningkatan drajat pahalanya, jauh bila dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain pada penanggalan tahun hijiriyah.
Momentum ini dimamfaatkan semua kalangan seperti produsen, sales marketing, konsumen dan produknya sendiri, berupaya meraih setiap keberkahan bulan ramdahan (Puasa).

Bulan Suci Ramadhan bagi para produsen memiliki 2 sisi. Bagi sebagian produsen bulan ini merupakan titik terendah penjualannya, namun disisi lain ada pula yang merasakan bulan ini sebagai momentum tertinggi volume penjualan tahunannya.

Hal demikian memang benar adanya, karena disatu sisi, konsumen yang menjalankan ibadah puasa sudah barang tentu tidak akan mengkonsumsi produk makanan dan minuman selama masa Ramadhan, mulai dari awal subuh hingga maghrib, namun disisi lain, di akhir bulan Ramadhan, akan ada Hari Raya yang biasanya menjadikan konsumen menjadi sangat konsumtif.

Sifat konsumtif ini ditujukan bukan hanya untuk produk makanan, minuman saja, tetapi juga produk busana serta personal (diri). Bahkan tingkat penjulan diri (komersialisasi personal) juga tinggi saat bulan puasa.
Bulan Ramadan memiliki makna tersendiri bagi caleg-caleg dalam menjalani proses aktualisasi diri menuju gedung paripurna baik tujuannya di pusat, provinsi atau kabupaten.

Kegitan bertema ramadhan pun memberikan efek luar biasa, selain beribadah sesuai dengan keyakinannya, caleg menjadi lebih agresif untuk menonjolkan jadwal ibadahnya kepada masyarakat yang akan menjadi pemilihnya disaat pemilu pada tanggal 4 april 2014.

Kembali menurut Firmanzah (kompas.com, kamis 30 mei 2013) ada dua modal yang paling menentukan saat seseorang ingin menang dalam pertarungan politik. Selain modal sosial, adalah modal kapital. Modal sosial adalah tingkat popularitas, sedangkan modal kapital adalah dari sisi financial.

Politisi yang hanya memiliki modal kapital, akan memerlukan biaya yang sangat besar untuk "membeli" modal sosialnya. Gelontoran dana akan dialirkan untuk menyumbang kegiatan masyarakat, dan muncul di media lokal untuk memperkenalkan diri kepada publik.

Kalau modal kapitalnya rendah tapi dia populer, masyarakat tahu dengan jasa-jasanya, itu bisa terbantu.
Bulan puasa (ramadahan), memberikan salah satu bukti hikmah keberadaannya bagi para caelg yang sedang berjuang dalam menngkatkan popularitas dengan cara komersialisasi diri sendiri. Caleg yang beribadah bertukar-tukar mesjid akan mengurangi biaya transportasi massa kampanye dan itu menghemat pendanaannya.
Imsakiyah dicetak menggantikan baliho atau spanduk, ibadah yang menguntungkan popularitas diri. Selanjutnya, dakwah keliling dalam mengisi program remaja mesjid atau pesantren ramadhan juga berpenngaruh dalam komersialisasi personal caleg di bulan Ramadan.

Puasa juga bersifat universal, membuat para caleg berusaha untuk tidak memberikan janji palsu. Karena janji palsu akan mengurahi kadar ibadah puasanya. Selain meningkatkan krestifitas caleg memasarkan idenya tanpa harus menjanjikan sesuatu yang tidak mudah untuk merealisasikan janji politiknya.

Caleg juga bisa mengirit pengeluran karena tidak perlu bayar makan atau minum, kecuali dalam hal buka bersama dan itupun hanya satu kali dalam satu hari.

Berkah bulan puasa (ramadhan) seharusnya disyukuri dengan penuh keikhlasan yang mendalam, jika para caleg memahami besarnya peran bulan puasa (ramadhan) dalam menjalani aktifitas komersialisasi personalnya.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar