Minggu, 18 Mei 2014

Mahasiswa Menekan Golput !!

Mahasiswa Menekan Golput !!
Oleh : Andrian Habibi
Ketua Badan Pengurus KomiteIndependen Pemantau Pemilu (KIPP) Daerah Pasaman.
Pengurus Badan pengelola Latihan(BPL) Himpunan mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lubuksikaping.
Sekarang melaksanakan aktifitas magang di Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI)Sumatera Barat.

Cerpen golput.
Tahapan pemilu sedang berlangsung, agenda 5 tahunanini pun menjadi aktifitas rutin yang selalu asyik untuk diperbincangkan. Tentusaja saat ini lebih meriah dengan berkurangnya jumlah partai politik pesertapemilu. Perdebatan dan dialog memacu andrenalinpun bermunculan untuk membahas setiap keputusan penyelenggara pemilu, mulaidari jadwal tahapan pemilu, verifikasi partai, verivikasi calon DPD, verifikasicalon anggota DPR, seleksi calon anggota KPU Provinsi, seleksi calon anggotaKPU kabuoaten / kota dan lain-lain. Ada komentar positif dan negatif tergantungkemana arah peroslan akan diarahkan. Timbullah masalah yang munculselanjutnya dan menjadi problematika setiap pemilu adalah, apakah pemilu kaliini bisa menjamin menurunnya tingkat golongan putih (golput-red).

Apakah golput itu sebenarnya, penulis mencobamengkutip Eep Saefulloh Fatah, lebih rinci mengklasifikasikan golputatas empat golongan : Golput teknis,yakni mereka yang karena sebab-sebab teknis tertentu (seperti keluargameninggal, ketiduran, dan lain-lain) berhalangan hadir ke tempat pemungutansuara, atau mereka yang keliru mencoblos sehingga suaranya dinyatakan tidaksah.Golput teknis-politis,seperti mereka yang tidak terdaftar sebagai pemilih karena kesalahan dirinyaatau pihak lain (lembaga statistik, penyelenggara pemilu). Golput politis, yaknimereka yang merasa tak punya pilihan dari kandidat yang tersedia atau takpercaya bahwa pemilu legislatif/pemilukada akan membawa perubahan danperbaikan.Golput ideologis, yaknimereka yang tak percaya pada mekanisme demokrasi (liberal) dan tak mau terlibatdi dalamnya entah karena alasan fundamentalisme agama atau alasanpolitik-ideologi lain.

Sepertinya, empat golongan tersebut dapat mewakiligolongan-golongan yang selama ini memang golput atau sedang berencana untukgolput. Masyarakat kita sedang berada dititik jenuh dengan tahapan pemilu.Terlebih akhir-akhir ini ada beberapa wakil rakyat tersandung berbagai macamkasus korupsi hingga membuat masyarakat indonesia umumnya kurang percaya lagiakan hasil dari pemilu. Ujung-ujungnya kalimat tanya sebagai pembenaran atasgolput pun muncul.Bagaimana pun pemiludan apapun hasilnya, kehidupan kami akan tetap seperti ini ?
Biasanya kita hanya berusaha untuk menjadi pengadilbersih yang mencoba menyalahkan setiap proses atau bahkan mengunkapkan pihaktertentu harus bertanggung jawab untuk tingkat golput yang ada. Kebiasaankritis masyarakat indonesia memang luar biasa, atau tepatnya kita termasukgolongan komentator ulung yang selalu memiliki bahan untuk membenarkan sebagainpihak atas fenomena golput yang terus terjadi.

Penulis merasa bahwa tidak sepenuhnya Pemerintah danpenyelenggara pemilu menanggung beban atas tidak terpuaskannya masyarakat yangterbiasa golput. Tugas kita bersama sebagai warga negara Indonesia adalahbagaimana mencari jalan keluar untuk menurunkan persentasi ke-golput-an ini,dengan tidak menepis kemungkinan untuk terus mengevaluasi setiap tahapan pemiluitu sendiri. Penulis merasa bahwa seluruh rakyat indonesia memiliki kemampuanuntuk mencoba memeriahkan agenda demokrasi 5 tahunan ini dengan meriah danpenuh kesadaran. Penting untuk kita pahami bahwa nilai terpenting bukan padahasilnya akan tetapi terletak pada proses / ikhtiarnya.

Peran Mahasiswa
Dalam tri darma perguran tinggi, ada pendidikan,penelitian dan pengabdian. Untuk menyatukan ketiganya dalam satu perjuangan dalammesukseskan pesta demokrasi, maka mahasiswa mesti turut ambil bagian untukmenekan angka golput yang telah memperihatinkan dunia per-politik-an saat ini.Sebagai agent of social control,mahasiswa mesti berinisiatif untuk bekerja sama dengan KPU dan Panwalu besertaLSM di bidang ke-Pemilu-an lainnya untuk memberikan pendidikan pemilih cerdasbagi pemilih pemula. Sistem ini akan membantu KPU dan Panwaslu/Bawaslu dalammenyelenggarakan tahapan pemilu sesuai dengan PKPU No.11 tahun 2012 berkenaanprogram KPU untuk pelaksanaan sosialisasi, publikasi dan pendidikan pemilih.

Kenapa target pertama adalah pemilih pemula? Dalam UU tentangPemilu yaitu UU No.10/2008, disebutkan di pasal 19 ayat 1 yang berbunyi: “WargaNegaraIndonesia yang pada hari pemungutan suara telah berumur 17 tahun ataulebih atau sudah/pernah kawin mempunyai hak memilih.” Berarti, pelajar/siswa yang sesuai dengan Undang -Undang tersebut dapat dijadikan sebagai target awal proram Pendidikan Pemilih.

Untuk saat ini merubah peta politik dan pandanganmasyarakat terhadap pemimpin bangsa ke arah yang positif bukan lah pekerjaanyang bisa diselesaikan dalam satu tahapan pemilu saja. Kita mestirealistis untuk target awal adalahmereka yang belum turut serta di setiap proses pemasaran poltik (political marketing). Mereka adalah parasiswa / pelajar yang sudah cukup umur untuk memilih pada Pemilu selanjutnya.Maka, dengan pendidikan pemilih cerdas untuk pemilih pemula yang dilaksanakanoleh para mahasiswa bertujuan agar terbentuk sistem jaringan pemilih cerdas.

Setiap peserta pelatihan pemilih cerdas akan mulaimemahami setiap proses tahapan pemilu serta mendapatkan kriteria ideal pemimpinbangsa untuk saat ini. Lulusan pelatihan pemilih cerdas akan dibentuk dalambeberapa kelompok yang dibimbing oleh beberapa mahasiswa untukmensosialisasikan gerakan pemilih cerdas untuk setiap lingkungan para lulusan. Layaknyasistem bisnis Multi Level Marketing(MLM), Berawal dari siswa / pelajar yang dilanjutkan pada setiap rumah pelajar/ siswa disetiap kejorongan. Kelompok cinta tahapan demokrasi ini akanmembentuk populasi yang besar. Masyarakat yang tergolong pemilih cerdas iniakan betul-betul menseleksi setiap calon kandidat pemimpin bangsa, bukan hanyadukungan karena faktor kekerabatan, uang, ataupun hubungan lainnya. Disaatitulah KPU dan Panwaslu / Bawaslu akan bertanggung jawab atas kelompok besaryang dinamakan masyarakat cerdas pemilu.

Peran mahasiswa dalam melaksanakan penelitianberhubungan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap hasil pemilu danmengabdikan diri sebagai pengawal demokrasi bangsa. Hasil pendidikan pemilihcerdas untuk pemilih pemula yang dilanjutkan dengan proses penelitian sebagaibakti terhadap proses demokrasi berbangsa dan bernegara ini dipublikasikan dandiserahkan kepada penyelenggara pemilu dan ke setiap partai yang ada, agartercapai kesamaan pemahaman untuk memeriahkan pesta demokrasi bernama pemiluyang hasil prosesnya berusaha memuaskan setiap elemen yang ada.

Akan tetapi, kembali pada persoalan yang dirasakanpara mahasiswa yaitu pendanaan program. Solusinya, KPU, Paswaslu dan PerguruanTinggi (baik PTN / PTS) seharusnya sudah membuat program masyarakat cerdaspemilu tersebut dimulai dari sekarang. Program ini dijadikan bahan untukmembuat usulan terhadap RUU/PP/PKPU selanjutnya. Terlebih saat ini ada beberapakampus yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (red- KUKERTA). KPU dan Panwasludapat bekerjama untuk menjalankan program pemilih cerdas tersebut sebagai salahsatu agenda wajib mahasiswa yang sedang melaksanakan kukerta. Pemerintah Daerahjuga dapat berpartisipasi dalam hal ini dengan memberikan bantuan dana hibahkepada kelompok mahasiswa agar program tersebut berjalan dengan sukses.

Akhirnya Pemilu dapat memuaskan masyarakat sertamenekan tingkat golput dan melaksanakan hak memilih tersebut sesuai yang tercantum secara resmi dalam UU No. 39/1999tentang HAM, yaitu di pasal 43 yang menyatakan: “Setiap warga negara berhakdipilih dan memilih dalam Pemilu”. Mari kita berharap proses ini akan membentuk sistem demokrasi dalamtahapan pemilu yang lebih baik untuk masa mendatang.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar