Rabu, 21 Mei 2014

RUMAH CITA

Rumah Insan Cita
Sekumpulan insane bertedung saat hujan dan hangatnya matahari, semua menuju rumah tersebut. Rumah yang dari luar terlihat indah dari luar dengan corak hijau hitam. Bertingkat, perpaduan antara bebatuan dan papan dari kayu terkuat.

Memasuki rumah, terpampang beberapa foto para pemimpin dengan motto yakin usaha sampai. Iseng2 mata akan melihat sekeliling, ada sekumpulan nama tersusun dengan data pribadinya melekat di dinding. Insane yang melihat kedepan akan terpaku akan sebuah karya seni tangan berupa papan tulis dengan ukiran bergelombang disekitarnya.

Mereka lalu duduk di tempat yang hangat dengan ditemani rak buku-buku banyak koleksi. Sambil meneguk kopi atau the dari sang tuan rumah, mereka tak lupa menuliskan tinta kesan dan pesan didaftar tamu harian. Sungguh tertib dan bersih menyejukkan jiwa dengan paduan warna hijau serta lukisan yang terpasang di dinding.

Malu akan diri sendiri saat melihat beribu karya sastra dari para penghuni. Tulisan, lukisan, kaligrafi menandakan kretaifitas penghuni. beragam jadwal melekat mengambil setai penanggalan untuk berjuang.

Saat mereka hendak beranjak pergi, ada sebuah celengan berasal dari kayu dengan hasil keringat penghuni meminta di isi se-ikhlasnya.

Benarkah rumah insane cita itu ada??

Beberapa hari lalu, para senior dengan beragam aktifitas berkumpul menyusun strategi dan taktik. Merumuskan setiap langkah untuk menyentuh tanah dan membangun tonggak bangunan.

Entah sudah berapa masa habis untuk berdiskusi?
Entah berapa lama waktu terlena akan instruksi para tetua?
Siang dan malam hilang begitu saja?

Apakah siding musyawarah itu akan berakhir sama? Sungguh sedih bila air mata ini kembali turun memenuhi sepetak wajah jika rumah cita berakhir layaknya lukisan yang dilombakan para siswa.

Jangan, begitu penting rumah itu bagi mereka. Para penuntut ilmu yang bermimpi akan masa depan cerah dengan beraktifitas di dalam rumah cita. Walau sesaat, harapan itu muncul tapi mereka bersimpuh untuk membuat nyata rumah yang akan ditinggali.

Rumah Cita merupakan amanat konstitusi yang mestinya menjadi kenyataan. sudah lebih 14 tahun pejuang cita menyerukan perubahan disetiap sanubari insan akademis. mereka sering berpindah-pindah seakan-akan manusia purba yang hidup nomaden.

Ayo, kita mengumpulkan setiap recehan yang menumpuk disaku selama ini. Tidak banyak sich, tapi bermamfaat bagi mereka para pemuda dan pemudi harpan hijau hitam. Satukan suara, samakan langkah, iramakan gerak tangan, membaur dalam suka duka demi terciptanya rumah cita.

Rumah cita itu akan dimeriahi dengan pengajian mingguan, diskusi harian serta perlombaan peningkatan akademis bulanan. Bias jadi mereka melaksanakan pendidikan gratis dirumah cita itu. Pusat informasi dan berita untuk pencerahan masyarakat.

Rumah cita itu merupakan pelipur lara bagi pejuang pendidikan yang lemah dan tak berdaya akan harta benda. Pemberi harapan kehidupan bagi mereka yang sengsara. Juga penyatu warna setiap golongan manusia.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar