Kamis, 11 Juni 2015

Galaunya HmI, Sepi Dalam Keramaian

Galaunya HmI, Sepi Dalam Keramaian
(refleksi Milad HMI ke-68, 5 februari 1947 – 5 februari 2015)
Oleh Andrian Habibi
PBHI Sumbar, KIPP Sumbar, Badko HmI Sumbar

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah organisasi tempat berhimpunnya mahasiswa minimal ber-KTP Islam. HMI didirikan oleh Lafran Pane beserta rekan-rekannya karena merasa sedih melihat kehidupan mahasiswa. Mahasiswa pada periode awal kemerdekaan terwarnai oleh budaya sosialis.
Mahasiswa merasa keren dengan pergaulan bebas, bangga akan keahlian berdansa, dan menjauhi kegiatan-kegiatan keagamaan yang disangkakan sebagai tugas para santri. Budaya ketimuran yang mengutamakan persamaan, kebersamaan, tenggang rasa, tolong menolong dan hormat menghormati dikikis dengan egosentris dan indiviaulisme.
Maka, saat mahasiswa-mahasiswa seperti ini tidak berada di ruang kuliah Ilmu Tafsir dengan Dosen Prof. Hussen Yahya. Seorang mahasiswa bernama lafran pane meminta izin pemakaian ruang dan pemamfaatan waktu untuk berpidato bahwa hari itu akan dibentuk organisasi mahasiswa islam bernama HMI dan yang hadir dinyatakan sebagai pendiri dan pengurus pertama dengan persiapan yang sudah matang.
HMI pun berdiri pada tanggal 5 februari 1947, terus berkembang hingga saat ini. Jenjang Struktur Kepemimpinan di HMI terdiri dari Pengurus Besar (PB) HMI untuk kedudukannya di jakarta. Lalu, Badan Koordinasi (Badko) HMI dengan kedudukannya di wilayah/provinsi serta Cabang HMI untuk kabupaten/kota lalu Komisariat HMI ditingkat Fakultas. Saat ini, HMI memiliki Badko HMI terdiri dari 20 badko dengan 187 cabang HMI se-indonesia.
Angka Fantastis
Pertumbuhan kader dapat kita asumsikan dengan sederhana, caranya 20 Badko HMI diharuskan melaksanakan Latihan Kader III (LK III) 1 kali setahun berarti ada 20 kali LK III HmI selama setahun. Lalu diasumsukan pesertanya 25 orang per LK III, maka ada 100 kader HMI lulusan LK III HmI yang dianggap sebagai anggota kualitas paripurna.
Selanjutnya, setiap cabang melaksanakan Latihan Kader II (LK II) HMI sebanyak 1 kali setahun sesuai dengan amanah konstitusi HMI. Maka terlaksana lah 187 kali LK II HmI dengan asumsi peserta 25 orang per-LK II berarti anggota HmI dengan kualitas manager anggota berjumlah 4.675 anggota pertahun. Setiap lulusan dianggap memiliki kemampuan managerial dalam mengelola organisasi HMI.
Lalu, berapa pertumbuhan anggota HMI pertahun? Jika diibaratkan setiap cabang hanya memiliki 10 komisariat HMI maka jumlah komisariatnya 1.870 komisariat. Berdasarkan hitungan bahwa setiap komisariat melaksanakan 1 kali Latihan Kader I (LKI) HMI dengan asumsi terburuk pesertanya hanya berjumlah 10 orang per LK I HMI. Jumlah pertumbuhan anggota baru se-Indonesia (baca : anggota biasa menurut pasal 10 Anggaran Dasar HMI) sekitar 18.700 anggota per tahun.
Penulis yang mengikuti LK I HmI pada tahun 2007 hingga sekarang sudah 8 tahun beraktifitas sebagai anggota HMI. Asumsi diatas dikalikan 8 untuk melihat pertumbuhan anggota HMI selama penulis berkegiatan, ada sekitar 149.600 anggota HMI sejak 2007 hingga 2015.
Angka fantastis jika dikalikan pada kekuatan suara 4 tahunan untuk demokrasi Indonesia.  Bayangkan saja, berandai-andai setiap anggota berasal dari program keluarga berencaba (KB). Kekuatan suara jaringan anggota HMI (ayah, ibu, 2 anak) sejumlah 598.400 suara. Ini belum dikali dengan sanak famili, keluarga, ataupun hasil komunikasi politik yang dilakukan.
Pembiacaraan yang ditujukan bukan menghitung berapa kekuatan jaringan anggota HMI secara politik. Akan tetapi, apa yang menjadi problematika HMI saat ini dengan jumlah pertumbuhan kader sekitar 18.700 anggota pertahun ?
Tahapan  Menua
Milad HMI ke-68 yang dilaksanakn oleh PB HMI bertemakan “HMI untuk Rakyat, Karya Nyata Untuk Indonesia” menyisikan satu pertanyaan berat oleh masyarakat (baca: rakyat), apakah HMI untuk Raykat berarti sama dengan HMI adalah rakyat ? atau pertanyaan apa sich karya nyata untuk indonesia?
Terjemahan kata dalam kalimat HMI untuk rakyat pastilah memunculkan tafsir beragam. Setiap orang berhak menafsirkan sesuai dengan pemahaman dan pandangannya terhadap HMI. Teringat secuil pidato Jendral Besar Sudirman yang menyatakan bahwa HMI adalah “Harapan Masyarakat Indonesia” untuk itu HMI harus berbaur dengan rakyat dan memperjuangkan cita-citanya meninggikat drajat rakyat Indonesia.
HMI dahulu masih sama dengan HMI sekarang, organisai kader dan organisasi perjuangan yang independen serta terbukti bertahan dari sekelumit rintangan. Mulai dari penolakan ormas islam terhadap HMI, Kevakuman karna turur berjuang mempertahankan kemerdekaan, menghadapi upaya penghancuran oleh PKI hingga asasl tunggal.
HMI tetap lah HMI, yang berbeda hanya pada diri perorang kader HMI. Dahulu HMI mungkin tidak sebanyak saat ini mengkader anggota baru. Tapi, cahaya gemilang kader HMI dahulu masih sulit tergantikan oleh 18.700 anggota HMI pertahun pada masa sekarang.
Perdebatan muncul mencoba menganalisa persoalan HMI saat ini hingga memunculkan hipotesa bahwa perjuangan kader HMI dahulu sangat jelas. Perjuangan melawan budaya elit eropa yang masuk ke dunia mahasiswa. Berjuang melawan penjajah dalam mempertahankan kemerdekaan. Berjuang melawan HMI dalam meneguhkan iman dan menguatkan syiar ISLAM. berjuang agar bertahan dari efek politis petinggi bangsa hingga bertahan dalam dualisme paska asas tunggal.
Lalu, melihat saat ini, anggota HMI dinilai tidak mengetahui siapa kawan dan lawannya. Keterbukaan berekspresi malah membuat anggota HMI bungkam seribu bahasa tanpa harus ditindak selayaknya orde baru. Budaya mensyiarkan ajaran Islam dijauhi dengan bahasa “masak kader HMI ceramah”?
lalu anggota HMI sekarang membangun kedekatan yang intens dengan alumni HMI yang berparti dengan kebanggaan tersendiri bersahabat pejabat publik. Diskusi kelompok beralih fungsi ke bentuk analisa politis mencapai posisi tertinggi di setiap pesta demokrasi yang ada di indonesia.
Karya Nyata Untuk Indonesia berarti kita harus melihat dengan jernih, membedakan pengabdian antara alumni dan anggota HMI, memperjelaskan orang-perorang dengan keseluruhan. HMI mempang suplier terbesar dalam kepemimpinan bangsa Indonesia.
Tapi itu kan dulu, bukan sekarang, terlebih 2 tahun kepengurusan PB HMI periode 2013 – 2015. Karya nyata HMI untuk indonesia masih menyisakan ruang perdebatan apa yang telah dilakukan dalam bentuk karya nyata?
Sisi baiknya, HMI tetap bersama Pemerintah dan Rakyat Indonesia dalam membangun budaya organisasi yang baik. Mahasiswa sebanyak 18.700 pertahun dikader untuk menjadi mahasiswa yang baik secara afektif dan tajam dalam kognitif.
Selain itu, HMI masih menjaga serta mempertahankan perjuangan tanpa pamrih untuk sosial mewarnai dunia pendidikan tinggi dengan aktifitas demontrasi beretika walau sebahagian anarkis. Tranfer pengetahuan antar anggota dalam diskusi kader yang berasal dari pelbagai jurusan memberikan harapan bahwa kader tersebut paham akan materi perkuliahannya dari kaca mata jurusan lain dan mengetahui sedikit ilmu pengetahuan dari jurusan lain tersebut.
Yakin Usaha Sampai, Bahagia HMI jayalah KOHATI, perjalan panjang masih memberikan pekerjaan rumah bagi setiap organisasi termasuk HMI untuk menghadapi dunia digital dan kehidupan modern mahasiswa kedepan.

Penulis bernama Andrian Habibi, beraktifitas di Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Sumatera Barat, Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Sumatera Barat dan Badan Koordinasi Himpunan mahasiswa Islam (Badko HmI) Sumatera Barat.



Penulis beralamat di Jln. Belanti Barat VII, No. 101, Kel. Lolong Belanti, Kec. Padang Utara, Kota Padang. No. HP : 085364472778
Share:

0 komentar:

Posting Komentar