Kamis, 11 Juni 2015

HENTIKAN BERMIMPI KEJAYAAN HMI !

HENTIKAN BERMIMPI KEJAYAAN HMI !
(refleksi Milad HMI 5 februari 1947 – 5 februari 2015)

Oleh Andrian Habibi

Himpunan Mahasiswa Islam yang disingkat dengan HMI lahir pada rabu pon, 14 rabiul awal 1366 H bertepatan dengan 5 februari 1947 M. Tepat dua tahun setelah proklamasi kemerdekaan indonesia, berlokasi di ruang kuliah Sekolah Tinggi Islam (sekarang UII) yang beralamat di Jl. Setyodiningratan 30 (sekarang P. Senopati 30).
Prof. Husein Yahya mengikhlaskan jam perkuliahan Tafsir Al-Qur’an diberdayakan oleh mahasiswa untuk musyawarah sekaligus deklarasi HMI. Jika ada pertanyaan apakah itu HMI ? maka jawaban sederhananya :
HMI adalah singkatan Himunan mahasiswa Islam, organisasi yang berlandaskan ISLAM memiliki tujuan terbinanya insan cita dan usaha nyata bersifat independen, berstatus sebagai organisasi mahasiswa, berfungsi sebagai organisasi kader, berperan sebagai organisasi perjuangan yang keanggotaannya diakui setelah mengikuti perkaderan HMI
Sejarah menjelaskan bahwa Lafran Pane bersama sekitar 20 orang prakarsa HMI memulai proses berorganisasi dan menjadi kelompok aktifis mahasiswa periode awal setelah kemerdekaan. Gerakan awal anggota HmI cukup sederhana dalam maksimal perjuangan.
Tujuannya saat itu hanya dua : “Mempertahankan Negara republik Indonesia dan mempertinggi drajat rakyat indonesia serta menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam”.
Anggota HmI memulai diskusi keagamaan, mengaktifkan dakwah mahasiswa, membangun komunikasi dan menolak budaya eropa yang dibangun di dunia perguruan tingi saat itu.
HmI sebagai organisasi mahasiswa Islam satu-satunya memperlihatkan eksistensi gerakan dengan ikut berperang melawan para penjajah. Bersatu dalam bingkai kebhinekaan perjuangan, berbeda di pemikiran tapi menjunjung tinggi budaya intelektual.
Menurut Lafran Pane (saleh, 1996), motivasi awal pendirian HMI adalah sebagai berikut :
…sebagai alat mengajak mahasiswa-mahasiswa mempelajari, mendalami ajaran islam agar mereka kelak sebagai calon sarjana, tokoh masyarakat maupun negarawan terdapat keseimbangan antara tugas dunia-akhirat, akal-kalbu, serta iman-ilmu pengetahuan, yang sekarang ini keadaan kemahasiswaan di indonesia diancam krisis keseimbangan yang sangat membahayakan, karena sistem pendidikan barat. Islam harus dikembangkan dan disebarluaskan dikalangan masyarakat mahasiswa di luar STI (Sekolah Tinggi Islam), apalagi PMY menegaskan berdasarkan non-agama…
Awal mimpi
Pemikiran sederhana para pendiri HMI tentang keseimbangan tugas dunia akhirat. HMI melihat keseimbangan tugas dunia akhirat bukan dalam bentuk membandingkan atau membagi-bagi aplikasi tugas dunia dan akhirat.
Keseimbangan pertama ini berbentuk sinergitas ikhtiar atas eksistensi manusia sebagai makhluk yang hidup di dunia dan hamba yang akan kembali mempertanggungjawabkan kinerjanya di akhirat.
Keseimbangan dunia akhirat terlihat dari kegiatan mahasiswa yang cerdas, memiliki gagasan dan terlihat jelas sebagai ummat Islam. Bukan ditujukan khusus kepada orang yang kuliah di STI, STAI, IAIN dan UII tapi secara umum seluruh masyarakat mahasiswa.
Keseimbangan akal kalbu yang diutarakan adalah lanjutan dari keseimbangan pertama. Akal sebagai bentuk anurgah keluarbiasaan manusia daripada mahkluk ciptaan Tuhan lainnya harus diseimbangkan dengan kalbu sebagai energi kerohanian. Akal ditempa dalam perdebatan, diskusi, rintangan dan hambatan gerakan menumbuhkan pelbagai solusi kehidupan.
Kalbu diolah pada pertempuran batin kehidupan masyarakat mahasiswa. Kesabaran dan usaha berbagi adalah kunci kesederhanaan mahasiswa sebagai kelompok elit dalam strata sosial pemuda.
Selanjutnya, keseimbangan iman – ilmu pengetahuan menjadi proses akhir keseimbangan sebelumnya. Artinya lanjutan keseimbangan tanpa meninggalkan keseimbangan awal. HMI memberikan ruang bagi anggotanya untuk menambah ketajaman pisau analisa serta menguatkan gagasan demi peningkatan ilmu pengetahuan.
Kajian keimanan diterjemahkan sebagai bentuk pengawal aktifitas cerdas mahasiswa. Pengetahuan yang diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat perlu dibumbui dengan “iman” agar bernilai dalam pandangan Ilahi.
Abrasi Keseimbangan
Tiga keseimbangan sebagai motivasi pendirian HMI menjadi spirit perjuangan semenjak berdiri hingga sekarang telah berusia 68 tahun. Perbandingannya dalam usia tergolong menua jika dibandingkan pada tahapan perkembangan hidup manusia.
Motivasi awal ini digambarkan dalam tujuan dan dituangkan pada pasal 4 Anggaran Dasar HMI :
Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab dalam terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT” bersandingkan dengan motto HMI “Yakin Usaha Sampai”.
Tujuan HMI harus diartikan secara menyeluruh dan saling berkiatan tidak bisa dipisahkan satu bagian dengan bagian lain. Hal yang menjadi rancu saat kita memisahkan antara akademis, pencipta, pengabdi, bernafaskan islam dan bertanggung jawab.
Anggapan penulis, pemisahan kajian dalam tujuan ini lah yang mengurangi keseimbangan yang dinyatakan oleh pendiri HMI. Akhirnya keseimbangan ini telah kembali pada titik membahayakan yang dihadapi oleh gerakan awal organisasi mahasiswa islam pada awal kemerdekaan.
Abrasi keseimbangan hidup masyarakat mahasiswa ini terlihat dari pelagai gambaran nyata para elit pemuda terkhususnya HMI. Budaya diskusi bukan bertujuan untuk menambah pengetahuan dan pemahaman terhadap permasalahan keilmuan menjelma “debat kusir” tak berkesudahan.
Budaya baru bernama “debat kusir” bercirikan beberapa orang yang membicarakan sesuatu persoalan untuk menambah soal. Soal bertambah berujung pada penghinaan atau menghakimi pendapat orang yang tidak bisa menyesuaikan dalam kelompok diskusi tersebut.
debat kusir” sebagai bentuk awal abrasi keseimbangan akal-kalbu dengan akhir cerita tanpa “happy ending”. Semuanya sirna seiring waktu berganti dan acara bergadang berefek telat bangun hingga mahasiswa terkesan malas dan gairah kuliah berkurang.
Debat Kusir
Abrasi keseimbangan berergikan budaya debat kusir bertemankan pemalasan menuntut ilmu dibangku perkuliahan dengan alasan sudah hebat diperparah dengan budaya politik yang menguat.
Aktifis mahasiswa termasuk anggota HMI saat ini terbuai aktifitas politik. Usaha memenangkan dirinya atau kelompoknya disemua pesta demokrasi mulai dari pemilihan ketua kelas, ketua jurusan, ketua BEM, ketua pemuda, ketua ormas atau okp lain.
Jelasnya semua kegiatan bernama “pemilihan” sebagai makanan keseharian aktifits. Politik dimaknai mengalahkan orang maupun kelompok lain dengan ilmu yang biasa dinamai “idiopolitor stratak (idiologi, politik, oranisasi, strategi dan taktik)”.
debat kusir” bertemakan isu-isu politik, pemberitaan politik serta semua instrumen politik meninggalkan diskusi keilmuan pada bidang lain. Pengabdian masyarakat hanya sebagai selingan dalam lukisan indah kehidupan berorganisasi.
Kelompok kalah dimaknai orang yang tak berkualitas dalam standar mahasiswa. Kalah menjadi momok menakutkan hingga mengurangi aktifitas kebersamaan dalam berorganisasi.
Semangat mengkaji aturan bermuara pada penguatan komunitas untuk mengkudeta atau menghentikan pejabat organisasi dari kepengurusan. Keberhasilan membuat “pejabat” ketua umum dinyatakan sebagai sejarah perjuangan yang disampaikan kegenerasi-generasi sesudahnya.
Alat pembenar yang disampaikan untuk merekrut anggota baru hanya menggambarkan keberhasilan para pendiri dan penerusnya. Tokoh-tokoh Nasional dari organisasi termasuk HMI seperti : Akbar Tandjung, Jusuf Kalla, Jimly Assidiqie, Hamdan Zoelva, Anies Bawesdan, Irman Gusman, Emma Yohana, Husni Kamil Manik.
Tokoh tersebut dijadikan alat pemberi harapan bagi mahasiswa yang berniat beraktifitas dalam kegiatan eksternal kampus. Mimpi-mimpi diproduksi sedemikian rupa hingga terkesan masih dirasakan dan ditemui jika berorganisasi dimasa sekarang.
HMI, sebagai kajian utama dalam penulisan ini tidak bisa disalahkan karena organisasi tidak memiliki ruang untuk disalahkan. Oknum-oknum pembuat debat kusir dan penggiat politik anggota lah yang harus disisihkan.
Pandangan kita harus jernih dalam melihat dan memisahkan antara anggota, kader dan organisasi. Anggota HmI hanya melekat pada setiap diri mahasiswa yang telah mengikuti Latihan Kader I HmI.
Kader HmI adalah anggota HmI yang berperan aktif mengelola dan memanejemen organisasi. Kader HmI terlihat dari kuantitas keaktifannya di acara-acara himpunan dan kualitas dilihat dari gagasan dan tulisannya.
Sedangkan, Organisasi adalah tempat berhimpumnya dua orang atau lebih yang memiliki struktur kepengurusan dengan program kerja untuk mencapai tujuan bersama.
Harus bisa dijelaskan bahwa kesalahan yang diperbuat oleh segelintir anggota tidak bisa di-generalisir secara keseluruhan kader bahkan terhadap himpunannya. Karena ketiganya berbeda dalam satu ikatan nyata.
Proyeksi kedepan berhulu pada perbaikan cara pandang dan mengupayakan kembali keseimbangan kehidupan dunia mahasiswa sesuai amanah pendiri HMI. Silaturahmi dilakukan secara menyeluruh untuk menghentikan efek menjauhnya “orang kalah” dalam organisasi. Meramu kegiatan bersatu dalam silaturahmi sembari memperbaiki kenyataan.
Mimpi keberhasilan pendahulu harus dihentikan tanpa ada niat menghapus sejarah sebagai salah satu bingkai kehidupan. Sejarah ditempatkan pada posisi sewajarnya berupa materi perkaderan serta penguatan kecintaan terhadap organisasi.
Menolak lupa atas jasa perjuangan serta pengorbanan melalui aktifitas nyata berlandaskan keikhlasan. Sejarah sebagai alat evaluasi untuk melihat kekurangan dan kelemahan perjuangan sekarang dan perbaikan proses kedepan.
Para sesepuh bernama alumni maupun senior juga berperan aktif untuk mengembalikan kejayaan organisasi. Alasan letih, malas, dan jengkel tidak dapat diterima jika mengingat kembali pada teori keseimbangannya Lafran Pane.
Perkaderan sebagai ruh dan jiwa organisasi adalah solusi perbaikan yang disepakati oleh seluruh pihak. Perkaderan dijalankan selayaknya disertai dengan silaturahmi seluruh anggota HMI.
Pandangan memilah anggota dari mana kampusnya, kampung halamannya maupun siapa senornya? Digantikan dengan bagaimana kuliahnya, apa yang bisa diabdikan di kampung halamannya dan menambah seniornya.
Silaturahmi akan mengurangi beban pelaksana kegiatan perkaderan membangun konsolidasi kader. Penguatan keilmuan terbentuk dari diskusi hingga memulai membentuk keseimbangan akal kalbu dan iman ilmu. Silaturahmi kader membuka ruang hampa yang selama ini terbangun oleh nafsu politik tak berkesudahan.
Bubar Sebagai Solusi Akhir
Kenyataan yang dihadapi adalah nafsu politik yang tak tertahan sebagai bentuk pencerahan dari sebahagian senior masih terbangun membendung dunia akademis dengan dunia nyata.
Perlakuan miris setiap pemilihan mulai dari tingkatan terendah : rapat anggota komisariat hingga kongres masih diwarnai jurus-jurus pukulan huck (tinju) dan tendangan seribu bayangan.
Selain itu, pengangungan terhadap kedigjayaan masa lalu masih terbenam dan bermuncul secara terus menerus dalam mimpi indah. Menolak lupa diumpamakan sebagai alat pembenar penghormatan jasa para pejuang. Para pendahulu pun mulai membanding-bandingkan zaman tanpa melihat perkembangan dan perubahan waktu.
Budaya membaca, berdiskusi dan menulis juga terusir dari kehidupan sebahagian pecinta debat kusir. Kenikmatan bercerita masih bertengger diurutan pertama tangga lagu gerakan berorganisasi. Hingga solusi akhir adalah “BUBARKAN SAJA” dalam dua makna.
Pembubaran dalam makna pertama diartikan tujuan HMI telah tercapai oleh para pendahulu dan kondisi masyarakat cita sebagai bentuk kelompok tercerahkan telah tercapai. Oleh karena itu, arahan sang guru HMI Nurcholis Majid (Cak Nur) untuk membubarkan HMI dinilai logis dengan perumpamaan mimpi atas kedigjayaan para pendahulu.
Pembubaran dalam makna kedua diartikan bahwa organisasi divonis tidak bisa menemukan solusi kongkrit untuk memperbaiki abrasi keseimbangan dalam kehidupan mahasiswa. Maka, ikhlas tapi tak rela kita harus menerima organisasi ini hilang dimasa dan diwaktu generasi sekarang.
Tulisan ini sebagai autokritik bagi penulis yang juga merasa berperan dalam kelemahan dan kemunduran organisasi. Akan tetapi, HMI dirasa masih bisa bertahan untuk puluhan tahun kedepan mengisi kemerdekaan dengan langkah nyata.
Milad HMI yang ke-68 sebagai pengharapan sekaligus doa untuk menguraikan “banang nan kusuik” serta “mambangkik batang tarandam”. Akhir cerita, Yakin Usaha Sampai, Allah SWT bersama orang-orang yang berjuang.
Perjuangan masih panjang agar senyum Jendral Besar Sudirman kembali berseri sambil berpidato “HMI bukan hanya Himpunan mahasiswa Islam tapi juga Harapan Masyarakat Indonesia”.

Andrian Habibi
Ketua Bidang Pembinaan Anggota Badan Koordinasi Himpunan mahasiswa Islam (Kabid PA Badko HmI) Sumatera Barat, Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Sumatera Barat, Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Sumatera Barat.
Jln. Belanti Barat VII, No. 101, RT 06, RW 04, Kelurahan Lolong Belanti, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang. Email : andrianhabibi@gmail.com, No. HP : 085364472778


Share:

0 komentar:

Posting Komentar