Kamis, 11 Juni 2015

HORMATI(lah) PRESIDEN

HORMATI(lah) PRESIDEN
(Kisruh Bahasa Pejabat Petugas Partai)
Oleh Andrian Habibi
Koordinator Relawan Pemantau di Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Sumatera Barat
Hormat, seperti kata KBBI : (1) menghargai (takzim, khidmat, sopan); (2) Perbuatan yang menandakan rasa Khidmat atau Takzim (seperti menyembah, menunduk). “Hormat” ditambah awal “meng” dan akhiran “i” berarti ; (1) menaruh hormat kepada : hormat (takzim, sopan) kepada….. (2) menghargai, menjunjung tinggi; (3) mengakui dan menaati (tentang aturan, perjanjian). Hormat, menghormati, dan penghormatan terlihat dari tingkah laku, tindakan, perkataan dan sikap seseorang kepada orang lain.

Sudah Lazim
Menghormati Presiden dapat diartikan menaruh hormat kepada Presiden dengan sopan dan sahaja tanpa harus membungkuk dan menyembah. Siapun dan setinggi apapun jabatannya, saat bertemu atau berpapasan dengan Presiden dianjurkan untuk memberikan sapaan yang sopan sebagai bentuk penghormatan. Presiden bukan lah dewa yang tidak memiliki salah, kita sangat sadar kepemimpinan Presiden dibantu oleh para menteri dan kepala lembaga setingkat menteri dalam mensejahterakan bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, Kita harusnya tidak melupakan pendidikan etika semenjak kecil bahwa saat bertemu atau berpapasan kepada orang yang lebih tua, penjabat negara atau pemimpin organisasi bahkan penghulu adat, untuk memberikan sapaan dengan senyuman ikhlas sebagai bentuk penghargaan kepadanya.

Menghormati Presiden juga berarti menghargai keberadaannya dimana saja dan menjunjung tinggi posisinya sebagai pemimpin sekaligus bapak bangsa. Apapun acara yang dihelat oleh kelompok atau suatu golongan masyarakat partai haruslah menghormati pejabat yang hadir, terlebih dia seorang Presiden. Ingat lah itu kata APAPUN. Artinya, saat kita mengundang presiden untuk menghadiri suatu acara. Maka kata-kata penghormatan dan pujian disampaikan kepada seseorang dengan posisi jabatan tertinggi sampai yang terendah.

Setelah itu, Presiden pun dipersilahkan memberikan pidato atau pengantar sebagai bentuk statement resmi pemerintah atas dukungan pada acara tersebut. Atau sekedar pandangan umum terkait acara dan bagaimana golongan/kelompok tersebut bersama-sama dengan pemerintah memajukan dan meninggikan harkat dan martabat bangsa Indonesia.

Menghormati Presiden juga bermakna mengakui dan menaati perintah dan aturan Presiden. Aturan dan Perintah Presiden merupakan perwakilan suara rakyat demi tegaknya hukum dan pemenuhan HAM bagi kesejahteraan rakyat. Perintah/Intruksi Presiden sudah pasti melalui pertimbangan yang mendalam serta masukan dari pihak-pihak pembisik ulung. Semuanya agar aturan dan perintah dapat dilaksanakan tanpa mengikutkan kehadiran hiruk pikuk ahli bahasa untuk menggugat.

Akan tetapi, aturan dan perintah Presiden tidak pula mutlak untuk dipatuhi. Aturan dan perintah yang diterbitkan dapat digugat sesuai dengan ranah gugatannya, apabila aturan dan peraturan tidak sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Begitulah demokrasi kita, menghormati keputusan Presiden dan menggugatnya bila tidak sepakat. Ini semua hasil dari perjuangan para pahlawan reformasi. Maka kita juga harus menghormati jasa-jasa mereka.

AKHIR PENGHORMATAN
Penghormatan, masih dari KBBI; proses, cara, perbuatan menghormati; pemberian hormat. Akhir penghormatan bisa berarti ambigu, tetap hormat atau tidak lagi hormat. Akhir penghormatan dinilai dari proses, cara, perbuatan yang terlihat mengahiri atau memutuskan untuk tidak lagi menghormati.

Akhir penghormatan kepada Presiden dapat berbentuk mengundang Presiden tetapi tidak mengucapkan salam sebagai bentuk kesopanan orang timur. Setelah itu, mengajaknya duduk bersebalahan tetapi tidak ditegur dan tidak diberi kesempatan untuk menyampaikan pandangannya sebagai pemimpin negara. Ditambah dengan mengatakan presiden sebagai petugas partai. Habis sudah status “kehormatan” si orang nomor satu di nusantara.

Penyebutan presiden sebagai petugas partai pun menimbulkan penafsiran yang beragam bak warna pelangi dilangit yang biru muncul setelah hujan reda. Apakah Presiden harus membungkuk kepada elit/ketua partai dan partai pendukungnya ? apakah setiap aturan dan peraturan yang akan diterbitkan presiden harus dilaporkan terlebih dahulu pada pimpinan partainya dan partai pendukung ? apakah presiden harus datang, duduk, diam saat menghadiri acara yang dihelat oleh partai pendukungnya?

Pertanyaan ini muncul setelah Presiden kurang dihormati oleh orang yang sangat paham betul tentang posisi dan status kenegaraan seorang Presiden. Kalau tanda-tanda menolak penghormatan kepada Presiden telah dimulai, lalu bagamaina rakyat percaya kepada bapak bangsa pilihan rakyat?

TEGAS UNTUK DIHORMATI
Presiden sebagai pemimpin bangsa dan negara kesatuan republik indonesia, sebagai bapak bangsa dan pimpinan tertinggi pertahanan, seharusnya memperjelas status “terhormat” yang diembannya. Jokowi harusnya mempertegas kata-kata bijak yang pernah diucapkan  oleh Presiden Filipina  Manuel Quezon pada 1941 bahwa ; “kesetiaan saya kepada partai berakhir ketika kesetiaan saya kepada negara dimulai”.

Jokowi dipilih oleh rakyat indonesia, bukan sekedar elit partai pendukung. Tidak semua suara rakyat berasal dari anggota parpol pendukung, jangan menafikan suara simpatisan dan relawan jokowi pada Pilpres. Maka, pernyataan ke-bapak-an Presiden diharapkan segera. Tujuannya agar “penghormatan” kepada status Presiden tergada sekarang, esok dan kepada Presiden yang akan datang.

Selain itu, pidato Presiden harus memuat pernyataan tegas bahwa Presiden bukan Petugas Partai ! ingat bukan Petugas Partai. Petugas adalah mereka yang dipekerjakan sesuai intruksi ketua/pimpinan parpol. Posisi petugas hanya berlaku kepada kader partai dalam melaksanakan kegiatan kepartaian. Jangan takut untuk keluar dari partai pendukung. Presiden berasal dari rakyat, dan dipilih oleh rakyat serta mengabdi untuk rakyat. Penulis beserta rakyat indonesia butuh Presiden bukan Petugas Partai !!

Oleh Andrian Habibi

Beraktifitas di Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Sumatera Barat. Beralamat di Jl. Belanti Barat VII, No. 101, RT 06 / RW 04, Kel. Lolong Belanti, Kec. Padang Utara, Kota Padang, Sumatera Barat. Telp : (0751) 41062, No HP : 0853  6447  2778, Pin BB : 548F331A. Bank Syariah Mandiri  KCP Ulak Karang, Padang, No Rekening : 7054533033
Share:

0 komentar:

Posting Komentar