Kamis, 11 Juni 2015

KPK MASIH ADA

KPK MASIH ADA
Oleh Andrian Habibi
Beraktifitas di PBHI Sumbar, KIPP Sumbar dan Badko HMI Sumbar

Manusia biasa berpresepsi dan beropini, bahkan untuk pesimis pun tiada larangan. Hal ini disebabkan manusia memiliki dualisme kekuatan makhluk hidup yang sempurna bernama akal dan perasaan. bentuk nyata “otak dan hati”, sebagai induk pengolah dan penyampai kehendak atas sesuatu hal. Ungkapan dan tindakan bak mata uang yang menyatu berbeda sisi tapi selalu beriringan serta tak terpisahkan.
Rakyat indonesia yang sebahagiannya heboh bersama-sama pemberitaan juga bentuk dari bauran akal-akal dan perasan-perasaan dalam memandang kepentingan bersama. Kekuatan massa ditambah dengan surat kabar serta media penyiaran menyatu padu mewarnai kehidupan rakyat dengan informasi-informasi ‘ketakutan”.
Kabar penakut akan hilangnya agenda pemberantasan korupsi pun sirna. Itu lah kita, rakyat indonesia yang terkenal memiliki rasa solidaritas tinggi dan terkesan terlalu baik. Hingga sangat takut saat sahabat dan kawan hilang satu persatu. Pengalaman kehidupan yang menyedihkan akibat praktek korupsi selama puluhan tahun tanpa disadari melahirkan mindset pesimisme.
Kita terkadang kurang percaya dan belum bisa mencoba untuk mempercayai seseorang. Walaupun, waktu telah menjawab semua keraguan dan keresahan rakyat atas keberlangsungan lembaga anti rasuah. Penulis juga ikut-ikutan dalam berjibaku melalui beberapa tulisan terkait KPK dan masa depannya.
Padahal kita hanya meramal akibat perasaan kebersamaan yang terkesan jauh dari realitas kehidupan. Kata kriminalisasi, pelemahan dan bahasa lain untuk membangun semangat kesatuan membela KPK telah terjawab. KPK masih ada dan akan terus hidup menumpas para tikus-tikus berdasi. Kinerja KPK memang sedikit diragukan mencapai titik maksimal. Tetapi keberadaannya menjadi asa, minimal menjamin perjuangan UU KPK terlaksana dengan segala daya upaya.
Rakyat sewajarnya percaya dan yakin bahwa kebaikan tidak akan terhenti hanya hilangnya segelintir orang. Itu bukan lah sifat dasar rakyat indonesia. Karna pepatah mengingatkan kita semua “patah tumbuh, hilang berganti” dan “mati satu lahir seribu”. Kalimat indah penuh syair yang menyimpan semangat optimisme ini muncul kembali.
Tidak ada yang perlu dan patut disalahkan atas pembelaan terhadap KPK. Akan tetapi perjuangan ini semestinya bernilai keadilan bukan pada “mengkultuskan” beberapa orang. KPK sudah berganti kepemimpinan, terlepas isu dan opini yang terbangun. Pastinya, pejabat komisioner KPK sedan “bekerja, bekerja, dan bekerja” merampungkan kasus yang sedang ditangani. Plt Pimpinan KPK juga dalam posisi mempertegas kesiapannya menghadapi gelombang praperadilan.
Lalu, apakah kita masih terus bertahan membela orang perorang dan menyamakannya dengan keberlangsungan lembaga? Pertanyaan ini adalah salah satu dari sekian banyak tanda tanya keheningan orasi rakyat dalam mimpi yang terindah “Indonesia Bebas Korupsi”.
Penulis beranggapan bahwa penyamaan seseorang yang menjabat (pejabat) dengan lembaga harus dikurangi. Siapaun dia, apapun lembaga yang dipimpinnya, seorang manusia tetap lah manusia biasa dan tidak dianjurkan menyamakannya dengan lembaga yang dipimpinnya. Bahkan, agama pun melarang mengkultuskan para Penyiar Agama dengan menyandingkannya dengan agama itu sendiri.
Permasalahan seseorang pemimpin dengan alasan pembenar bahwa manusia tiada sempurna dan berkemungkinan memiliki masa lalu kelam. Bukan lah pikiran yang termaktud pada gelombang progresif. Salah tetap harus disalahkan, benar harus dibenarkan. Proses hukum sedang berlangsung dan bela lah mereka melalui prosedur pembelaan yang memang diatur untuk itu.
Lembaga anti rasuah takkan mudah untuk dikriminalisasi, takkan habis diserang korupor, serta takkan henti dilemahkan oleh orang-orang yang terbiasa senang menyimpan dana-dana korupsi. Sebagai sahabat KPK yang baik, kita membela dengan menyamakan persepsi bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Saran yang terucap oleh Tony Kwok mantan komisioner KPK hongkong bahwa “pencegahan menjadi senjata pertama dalam pemberantasan korupsi”.
Sahabat KPK dimanapun kita berada dan apapun yang sedang dikerjakan, percayalah KPK masih ada, percayalah KPK masih kuat dan percayalah KPK akan selalu hebat. Mari kita mengutip motto Revolt Institute :“menjadi benar dengan cara yang benar”. Ayo kita gerakkan semangat membangun ke-bhineka tunggal ika-an di bangunan super power berbentuk pengawasan kebijakan publik.


Oleh Andrian Habibi

Beraktifitas di Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Sumatera Barat. Beralamat di Jl. Belanti Barat VII, No. 101, RT 06 / RW 04, Kel. Lolong Belanti, Kec. Padang Utara, Kota Padang, Sumatera Barat. Telp : (0751) 41062, No HP : 0853  6447  2778, Pin BB : 548F331A. Bank Syariah Mandiri  KCP Ulak Karang, Padang, No Rekening : 7054533033
Share:

0 komentar:

Posting Komentar