Rabu, 10 Juni 2015

MASYARAKAT CITA

MASYARAKAT  CITA
Oleh Andrian Habibi
Ketua Bidang Pembinaan Anggota Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (Kabid PA Badko HMI) Sumatera Barat

BANGSA PENUH MASALAH
Indonesia adalah negara kepulauan dengan ribuan pulaunya (menurut Badan Informasi Geopasial berjumlah 13.466 pulau)[1], bersuku bangsa yang beragam (300 kelompok etnik dan 1.340 suku[2]) dengan bahasa daerah penuh corak nan indah (sekitar 750 bahasa daerah[3]).
Rakyat hidup dan mencari kehidupan di nusantara yang terhempas dari sabang hingga merauke- semangat serta bekeja keras. Budi pekerti rakyat terkenal hingga ke belahan dunia yang mengundang bangsa dan negara lain menghampiri untuk singgah sementara waktu atau menetap dan bahkan ada yang membangun keluarga kecil di negeri ini.
Begitulah pengantar tulisan ini diketikkan dalam mesin bernama notebook dengan mengukirkan semua yang terpendam dalam angan dan fikiran penulis. Indonesia, yang namanya masih misteri mulai dari isu negeri dewata “atlantis”, bangunan Nabi Sulaiman bernama “borobudur” hingga tanah emasnya “andalas”, pun masih banyak misteri yang belum terungkap dari kekayaan sejarah indonesia.
Perlu kiranya penulis membanggakan diri dan rakyat indonesia untuk menjaga tingginya harkat dan martabat bangsa. Kita “rakyat” memiliki kuasa penuh terhadap sejarah dan masa depan bangsa. Sudah kah kita pede dengan ke-luarbiasa-an indonesia ini ? apakah kita memang bisa menjaga kepedean ini ?
Rakyat Indonesia terlalu asik dengan sejarah hingga terbiasa lupa mengevaluasi aktifitas harian dan proyeksi indonesia cita sesuai amanah pembukaan UUD 1945. Pede dengan kekayaan tetapi lupa bagaimana memamfaatkan dan mengelola kekayaan tersebut. Berapa banyak sumber daya alam dan mineral yang dikuasai oleh ‘asing’ ?[4] politikus mengubah kepedeannya dengan menjual semua hasil bumi dengan landasan kontrak untuk mengamankan tujuan politiknya memrintah dengan kekuatan kekuasaan penuh. Hmmm, tidak terhitung hutang indonesia karna kepedean politikus.
Politisi memparah gambaran keindahan nusantara dengan budaya politik janji penuh mimpi dalam derita pengharapan rakyat indonesia. Etika politik santun yang diajarkan oleh pelaku sejarah bangsa hancur ditangan perebut kekuasaan. Politik caci maki dan dendam beramarah merusak sendi-dendi ketoraleran budaya bangsa. Politik pecah belah dan menguasainya “devide et empera” kompeni kembali menjadi barang halal dalam demokrasi indonesia. Politisi sekarang bisa disamakan dengan anak kompeni, bisa saja akan muncul film “Nagabonar 3” untuk menyindir tingkah pola politikus.
Ahhh, dualisme kekuatan politik bangsa antara KIH dan KMP merambat ke dualisme partai politik. Belum selesai menyelesaikan peroblematika internal, dualisme kekuatan menghantui PERADI, POLRI hingga OKP-OKP tingkat desa. Lagi-lagi, kita harus bertanya pada rumput yang bergoyang, mungkin disana ada jawab atas kisruh politik politisi indonesia.
Di lain sisi, budaya belajar dan menjadi intelektual tergeser dalam bentuk generasi medsos yang menggalau sepanjang hari. Padahal kita bangsa yang terkenal cerdas dan memiliki budaya belajar. Ohh, generasi medsos merasuki angkatan pendidikan dasar hingg pendidikan tinggi. Persoalan galau cabe-cabean dan terong-terongan lebih fenomenal daripada membuat medsos menjadi ruang diskusi membuka dialog antar suku bangsa senusantara. Bayangkan dampak mamfaatnya diskusi medsos yang mempertemukan wajah-wajah anak bangsa.
Pemuda, mahasiswa dan pelajar sibuk mengejar nilai demi masa depan cerah yang belum tentu diraih akibat kehancuran demokrasi bangsa. Generasi muda tidak sadar bahwa masa depan berada ditangan mereka,  bukan di nilai-nilai yang tertera dalam ijazah maupun sertifikat yang tingginya sudah mengalahkan gubung smeru.
Gerakan intelektual tidak bisa disalahkan karna mereka harus dihancurkan dengan halus melalui program tob cerrr nya pemerintah bernama bidikmisi dan UKT. Belajar, dapat nilai dan wisuda tepat waktu menjauhkan generasi muda dari sosialisasi antar insan. Jangan tanyakan aksi-aksi demontrasi ? sudah dipastikan akan menjadi barang haram oleh pihak kampus. Masyarakat pun sudah jenuh dengan demo mahasiswa dan lebih memilih meneriaki para pendemo demi lancarnya jalur transportasi untuk meraup rezeki harian.
MEMBANGUN MASYARAKAT CITA
Sekarang, kita hanya benturan insan-insan cita dengan profil-nya muslim, intelektual dan profesional[5], yang ada tampa bisa bersatu dalam kepaduan masyarakat. Perjuangan membangun dimensi kesamaan berubah dalam spektrum warna kepentingan. maka perlu kiranya membangun persepsi yang sama untuk mendirikan masyarakat cita sebagai perwujudan masyarakat madani masa Rasulullah. Masyarakat yang menyatu merubah bangsa dan negara serta problematika yang semrawutan ini.
masyarakat/ma·sya·ra·kat/ n sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yg mereka anggap sama.[6] Masyarakat Cita adalah sejumlah manusia yang terikat dalam kebudayaan insan cita. Masyarakat cita adalah hasil dari alumni-alumni cita, yang dinilai telah paripurna secara pemikiran, tindakan dan siap mengemban amanah mencapai tujuan Ridha Allah.
Pertanyaannya, kenapa masyarakat cita bisa menyelesaikan permasalahan bangsa dan negara? Apa sich kualitas masyarakat cita? Karna telah disampaikan bahwa masyarakat cita merupakan persatuan atau perhimpunan insan-insan cita. Maka, kualitas masyarakat cita merujuk dari kualitas insan cita dalam tafsir insan cita di konstitusi HMI.
Masyarakat cita menghalau kepentingan-kepentingan pribadi, insan penguasa dan berkuasa di nusantara. Masyarakat cita digambarkan sebagai bentuk komunitas terbaik yang ada dalam sejarah kehidupan manusia Indonesia. Sebelum merumuskan pembentukan dan susunan masyarakat cita, penting lah kita mengetahui kualitas yang ada dalam masyarakat cita untuk memudahkan perumusan strategi dan taktik mempengaruhi situasi dan kondisi.
Tabel I
POTENSI MASYARAKAT CITA
Anggota HMI
Alumni HMI
Cabang
Komisariat
Anggota Biasa
279
2790
41.850
41.850
Keterangan : asumsi HMI memiliki 279 cabang se-Indonesia, dengan rata-rata 10 komisariat percabang. Lalu, komisariat melaksanakan Latihan Kader I dengan asumsi peserta 15 orang menghasilkan 41.850 anggota biasa per tahun. Bisa diperkirakan, pertahun juga 41.850 anggota KAHMI se-Indonesia.
LIMA KUALITAS MASYARAKAT CITA (5 KMC):
Ada lima kualitas masyarakat cita sesuai yang merupakan lanjutan dari tafsir 5 Kualitas Insan Cita dalam Konstitusi HMI[7]. Masyarakat Cita adalah gabungan dari Insan Cita secara massif. Sedangkan pondasi dan perangkatnya berasal dari insan cita. Masyarakat cita menjadi potensi sosial untuk melakukan reformasi birokrasi[8] seperti pendapat kanda Drs. Faisal Basri, MA, reformasi Partai Politik dan civil sociaty for Lets Change’s-nya Ekonom UI.
Oleh karena itu, penjabarkan 5 kualitas masyarakat cita tidak jauh dari penjabaran tafsir kualitas insan cita. Sinergitas pemaknaan, pengartian dan penafsiran disengajakan sama untuk menyamakan persepsi dan mempermudah pembangunan sistem masyarat cita. 5KMC tersebut antara lain :
1. MASYARAKAT CITA AKADEMIS:
Berpendidikan tinggi.
Berwawasan luas, ilmiah.
Berfikir rasional.
Objektif & kritis.
Masyarakat Cita Akademis secara harfiah dinilai dari teks berbentuk surat-surat berharga bernama ijazah dan sebagainya. Ijazah dan transkrip nilai yang berisikan kata “KELULUSAN” dan angka-angka ataupun huruf-huruf  sebagai bentuk penilaian terhadap pencapaian orang yang telah mengikuti pembelajaran. Semakin tinggi pendidikannya, disangkakan semakin fokus keilmuan pada bidang tertentu. Pembuktian tersebut memperlihatkan bahwa, masyarakat cita akademis minimal bentukan dari insan-insan yang berpendidikan Strata II (magister).
Kenapa harus magister ? karena, gabungan para insan cita yang magister, diperkirakan selesai pada usia 26 tahun. Asumsi bahwa seorang manusia menempuh pendidikan dasar semenjak usia 7 tahun dan berakhir pasca sarjana pada usia 25 s/d 26 tahun tanpa pengurangan atau melebihkan masa studi. Asumsinya adalah 6 tahun untuk SD, 3 tahun SMP, 3 tahun SMA, 4 tahun S1 dan 4 tahun S2.
Ke-akademis-an ini dinilai akan mempengaruhi lingkungan keluarga, masyarakat sekitar hingga ke nasional. Karena perubahan akan terjadi dari struktur komunitas terkecil menuju komunitas besar bernama negara. Anda tidak akan melihat lagi adanya pembohongan publik, karna masyarakat cita akademis berfikir secara rasional bukan emosional.
Mereka meneliti setiap isu dan memantau setiap tindak tanduk pemerintah. Janji-janji politik takkan berlaku lagi hingga pemimpin yang ada adalah mereka yang dipilih karna krebidilitas dan kapasitas yang mumpuni. Persoalan politik, ekonomi dan hukum bisa diselesaikan dengan gabungan masyarakat cita setiap daerah di Indonesia.
Realistis dan kritis serta objektif, begitulah gambaran masyarakat cita akademis yang sadar akan perannya membenahi persoalan bangsa dan negara dari bidang akademisnya. Keilmuannya digunakan untuk memperbaiki sistem kehidupan yang ada serta demi pengabdian berkelanjutan sepanjang hidupnya. Tercapailah ke-akademis-annya sesuai tujuan pendidikan/pelatihan/perkaderannya yaitu afektif, kognitif dan psikomotorik tertinggi[9].
2. MASYARAKAT CITA PENCIPTA:
Inovatif, Penuh gagasan kemajuan, mencari perbaikan & pembaharuan.
Independen & terbuka, tidak isolatif, potensi kreatifnya terus berkembang, & melaksanakan kerja-kerja kemanusiaan.
Masyarakat cita akademis, menjadi dasar rumah untuk membudayakan penemuan-penemuan disemua aspek kehidupan. Inovatif, mengenal yang telah ada dan membuat yang belum ada. Bukan sebagai konsumen yang memakai dan menghabiskan sesuatu yang telah ada dan itu buatan bangsa lain.
Masyarakat cita pencipta, mengenal kebiasaan perbaikan setiap apapun. Revisi sistem pemerintahan, penegakan hukum, perekonomian, sosial budaya, pendidikan dan sebagainya. Perubahan bisa penemuan hal baik, dibilai sebagai dua pahala dan seandainya tidak berfungsi secara baik minimal satu pahala sebagai bentuk ikhtiar menuju kebaikan.
Sebagai contoh : kebiasaan menulis menciptkan buku, kebiasaan meneliti menciptakan pupuk organik (NT 45 di sumatera barat oleh alumni HMI)[10], pelbagai hasil pertanian yang baru oleh Febriansyah[11], kebiasaan mendampingi masyarakat tertindas melahirkan PBHI Sumbar[12] oleh Kanda Samaratul Fuad dkk.
Dibahagian nusantara ini, mungkin banyak hasil penciptaan-penciptaan yang bertujuan menjamin terbentuknya pranata sosial Masyarakat Cita Indonesia.
3. MASYARAKAT CITA PENGABDI:
Ikhlas & berkarya utk manusia.
Mengusahakan agar diri sendiri & org lain menjadi lbh baik.
Pasrah pada cita-citanya & ikhlas mengamalkan ilmu utk manusia.
Masyarakat yang cerdas dan selalu berinovasi menemukan gerakan-gerakan baru yang harus diaplikasikan. Atau sekedar aktualisasi dalam kenyataan atas teori. Pegabdian bukan tertuju pada per-insan tetapi keseluruhan masyarakat. Pengabdian ini mengurangi self-idea dan merubahnya menjadi aktif dan reaktif.
POTENSI ALUMNI HMI DI DPR[13]
Partai Politik
Alumni HMI
PDI-P
1.      Erwin Muslimin Singajuru,
2.      Henri Yosodiningrat, 
3.      Jalaluddin Rahmad, 
4.      M Prakosa,
5.      Idham Samawi, 
6.      Hamka Haq
7.      Nasyirul Falah Amru
8.      Pramono Anung Wibowo (Jatim VI)
Golkar
1.      Rambe Kamarul Zaman (Sumatera Utara II),
2.      Kahar Muzakir (Sumatera Selatan I),
3.      Azhar Romli (Bangka Belitung),
4.      Deding Ishaq (Jawa Barat III),
5.      Eka Sastra (Jawa Barat III),
6.      Ichsan Firdaus (Jawa Barat V),
7.      Ade Komarudin (Jawa Barat VII),
8.      Agun Gunanjar Sudarsa (Jawa Barat X),
9.      Ahmad Zacky Siradj (Jawa Barat XI),
10.  Iqbal Wibisono (Jawa Tengah VI),
11.  Bambang Soesatyo (Jawa Tengah VII),
12.  Ridwan Hisjam (Jawa Timur V),
13.  Sarmuji (Jawa Timur VI),
14.  Zainudin Amali (Jawa Timur XI),
15.  Yayat Y. Biarto (Banten II),
16.  Aditya Anugerah Moha (Sulawesi Utara0,
17.  Mohammad Said (Sulawesi Tengah),
18.  Syamsul Bachri (Sulawesi Selatan II),
19.  Andi Fauziah Pujiwatie (Sulawesi Selatan III)
20.  Saiful Bahri Ruray (Maluku Utara).
21.  Fadel Muhammad (Gorontalo)
22.  Zulfadhli (Kalbar)
23.  Sukiman (Kalbar)
Hanura
1.      Fauzih Amro (Sumsel I),
2.      M. Farid Alfauzi (Jatim XI)
3.      Syarifuddin Suding (Sulteng)
4.      Saleh Husin (NTT II)
PAN
1.      Alim Abdullah (Lampung II),
2.      Teguh Juwarno (Jateng IX),
3.      Totok Daryanto (Jatim V),
4.      Viva Yoga Mauladi (Jatim X)
5.      M. Yamin Tawary (Maluku Utara)
6.      Zulkifli Hasan (Lampung I)
Nasdem
1.      Taufiqulhadi (Jatim IV)
2.      Akbar Faizal (Sulsel II)
3.      Zulfan Lindan (Aceh II)
Demokrat
1.      Saan Mustopa (Jabar VII)
2.      Nurhayati Ali Assegaf (Jatim V)
3.      Wahidin Halim (Banten III)
4.      Syarifuddin Hasan (Jabar III)
PKB
Handayani (Jambi)
PPP
1.      Irgan Chairul Mahfiz (Banten III)
2.      Mohammad Arwani Thomafi (Jateng III)
3.      Reni Marlinawati (Jabar IV)
4.      Hasrul Anwar (Sumut I)
Gerindra
1.      Fadli Zon (Jabar V)
2.      Desmond Junaidi Mahesa (Banten II)
PKS
1.      Tamsil Linrung (Sulsel I)
2.      Nasir Djamil (Aceh I)

Kita bisa mengumpakan masyarakat sesuai motto pak presiden jokowi yaitu masyarakat bekerja, bekerja dan terus bekerja. Pengabdian bersama-sama tersistematis serta terstruktur dari pusat hingga kebentuk masyarakat tercekil sekalipun.
4. MASYARAKAT CITA ISLAM:
Islam menjiwai pola pikir, prilaku & karya-karyanya.
Islam menjadi “unity of personality”, tidak “split personality”.
Pendidikan yang mencapai tingkat magister diamalkan dalam kehidupan setiap insan bersama-sama dengan insan yang lain harus berlandaskan tututan syar’i. isu “khilafah” bisa dipinggirkan dalam bentuk Masyarakat Cita Islam. apapun bentuk negara dan sistem pemerintahan, tidak akan mengganggu pengamalan agama dan ibadah ummat. Kesejukan beramal terkontruksi dalam bangunan ketinggian ilmu, keharmonisan dalam kreatifitas, serta pengabdian dalam ikhtiar.
Bangunan Masyarakat Cita Islam merangkul niatan dan maksud dari pihak-pihak pendukung khilafah di bumi Indonesia. Bayangkan saja, apa permasalahan yang akan muncul setelah terbentuknya masyarakat cita islam? semua tertata bak kewajiban tapi lebih soft. Kehidupan merupakan kepemilikan bersama “sence of belonging”.
Proses perkembangan manusia pun tidak akan memsukkan masa “cabean” dan “terongan” dalam perjalanannya dari kecil ke tingkat dewasa. Masyarakat Cita Islam mengupayakan pendidikan yang sinergis baik di sekolah, lingkungan dan keluarga. Gerakan pendidikan keluarga menghalau kesyibukan para penerus bangsa atas kuasa-kuasa penghancuran bernama guzwul fikr.
5. MASYARAKAT CITA BERTANGGUNG JAWAB:
Sanggup memikul akibat-akibat perbuatannya.
Sadar bahwa untuk benar perlu keberanian moral.
Responsive menghadapi tugas, tidak apatis.
Bertanggung jawab & bertaqwa kepada Allah dengan aktif berbuat kepada masyarakat.
Korektif terhadap setiap langkah yang berlawananan dengan usaha membangun masyarakat cita.
Percaya diri & sadar sebagai “Khalifah Tuhan” untuk memakmurkan bumi.
Ridho Allah SWT lah tujuan semua pemikiran dan tindakan serta mimpi masyarakat cita. Terkadang teori dan praktek memang berbeda, tergantung situasi dan kondisi kebatinan seseorang. Perlu komitmen jelas untuk menjaga konsistensi perbuatan menyesuaikan dengan kayakinan kita.
Tanggug jawab hidup, pendidikan, bekerja, berusaha, berpolitik, bersosial, bernegara, beribdah. Semua sesuai porsi pertangungannya dan akan di kuasakan untuk penjawaban ikhtiar di akhirat kelak.
KAHMI = MASYARAKAT CITA
Bangunan masyarakat cita sampai sekarang masih berada di awan-awan. Padahal kita mengenal bentuknya begitu dekat, sedekat aliran darah perjuangan perkaderan dan keorganisasian. Kader HMI yang telah berstatus insan cita setelah menyelesaikan pembelajaran dan perjuangan keorganisasiannya akan menjadi seorang alumni HMI. Mereka bertemu dan berkomunikasi dalam organisasi Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI).
KAHMI, diakui atau tidak dianggapkan sebagai organisasi “paguyupan”, artinya hanya ngumpul-ngumpul, ngerumpi dan membahasa politik. Tidak bisa dipungkiri juga kalau KAHMI diposisikan oleh kader-kader HMI sebagai “BANK SOSIAL”. Kader HMI sudah dalam mencari pemateri dan kurang dana langsung saja minta bantuan KAHMI.
Pertanyaan yang muncul, apakah KAHMI itu ? bagaimana hubungan KAHMI dan HMI ? dan apa hubungan KAHMI dengan masyarakat madani zaman Rasulullah SAW ?
KAHMI, adalah organisasi dengan nama korps untuk sebagai bentul legal alumni-alumni insan cita berkumpul. KAHMI lah contoh tepat untuk melihat potensi perbaikan bangsa atas nama HMI. KAHMI juga sebagai koordinator dalam mendistribusikan alumni insan cita di semua ranah pengabdian demi tercapainya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh ALLAH SWT.
Saat persoalan bangsa datang baik dari celah ekonomi, politik, tata negara, hukum, sosial, budaya, pendidikan, hubungan internasional. Satu-satu jawabannya adalah KAHMI. Alumni HMI yang adalah kader paripurna yang telah terbukti tempahan kawah candradimuka selama mengabdi di ranah struktural dan fungsional HMI.
Ukhuwah Islamiyah menurut kakanda Cak Nur, merupakan kekuatan HMI dan Alumni HMI. Ukhwuah ini lah yang akan menyelesaikan konflik-konflik antar kepentingan dan merubah haluan pada penyatuan tujuan “Masyarakat Adil Makmur yang Diridhoi oleh Allah SWT”.
Teringat kata almarhum Agus Salim Sitompul, tokoh sejaharah HMI yang belum tergantikan, pernah berucap ; “saat Presiden meminta 10 menteri kepada HMI, maka HMI telah menyiapkan 11, artinya HMI masih dipercaya sebagai solusi terhadap permasalahan bangsa”.
Potensi KAHMI
NO
LEMBAGA
NAMA
JABATAN
1
Wakil Presiden RI
Jusuf Kalla

2
MPR RI
Zulkifli Hasan
Ketua
3
DPD RI
Irman Gusman
Ketua
4
DPD RI
Emma Yohana
Anggota
5
Kementrian Pendidikan
Anies Bawesdan
Menteri
6
Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
Yuddy chrisnandi
Menteri
7
Kementrian Agraria dan Tata Ruang
Ferry Mursidan Baldan
menteri
8
BAPPENAS
Andrinof Chaniago
Kepala
9
BPK RI
Harry Azhar Aziz
Ketua
11
DKPP
Jimly Assidiqie
Ketua
12
KPU RI
Husni Kamil Manik
Ketua

Penulis sependapat dengan abanganda Agussalim Sitompul bahwa HMI dan KAHMI walaupun belum menjadi keseluruhan dari solusi tapi merupakan salah satu jalan terang untuk merubah kehidupan bangsa yang berdaulat, adil dan makmur. HMI dan KAHMI adalah satu kesatuan bagaikan 2 mata sisi uang yang tak terpisangkan dengan nilai yang sama.
Akhirul, KAHMI adalah Masyarakat Cita. KAHMI lah gabungan insan-insan cita dan berupaya untuk lebih menyatu dalam pelbagai ranah perjuangan dan pengabdiannya. Semua tindakan dan fikirannya untuk meningkatkan harkat martabat bangsa dan memajukan kehidupan ummat di indonesia.
Yakin Usaha Sampai, Paksa Usaha Sampai, Allah SWT bersama orang-orang yang berjuang. Belajar di HMI, Berjuang di KAHMI, agar Masyarakat CITA diridhoi Allah SWT terjadi.

Catatan : tulisan ini terasa tidak mengena bagi pembaca, tapi ini lah mimpi kita bersama. Semoga ada yang menyempurnakannya dalam bentuk buku berjudul “MASYARAKAT CITA”. Buku yang berisi problematika bangsa dan solusi HMI serta KAHMI untuk memajukan Ummat dan Bangsa. insyaAllah ada yang berkenan. Aaamiiin ya Rabb.



[1] http://www.bakosurtanal.go.id/berita-surta/show/indonesia-memiliki-13-466-pulau-yang-terdaftar-dan-berkoordinat
[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_bangsa_di_Indonesia
[3] http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/03/04/n1wj10-ratusan-bahasa-daerah-di-indonesia-punah
[4] http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/03/12/17593476/Sumber.Daya.Alam.Indonesia.Dikuasai.Asing..Penjajahan.Baru?utm_source=bisniskeuangan&utm_medium=bp-kompas&utm_campaign=related&
[5] Pedoman Perkaderan. Hasil-Hasil Kongres HMI
[6] KBBI online
[7] Tafsir 5 Kualitas Insan Cita, Hasil-hasil Kongres HMI
[8] Faisal Basri. dalam KAHMI, Reformasi & Civiel Sociaty. Majelis Nasional Kahmi, Jakarta, h. 18
[9] Pedoman Perkaderan HMI
[10] Penemu NT45 adalah Doktor UNP Darman dan diaplikasikan oleh “uwo” Gazali, telah membuktikan keberhasilan di bidang perternakan dan pertanian serta perkebunan tapi tidak mendapatkan tempat di Pemerintahan Indonesia. Pemerintah lebih asyik mengimpor daripada memperjuangkan ketahanan pangan. Silahkan di cek https://www.facebook.com/ahmad.gazali.12177/notes
[11] Febriansyah adalah Keua Bidang SDA Badko HMI Sumbar, peneliti pertanian dan pakar KOPI sumatera barat. Febri telah menciptakan “Kopi Luwak Tanpa Luwak”, Pupuk Organik dari Darah, Pengelolaan dan Pemasaran Kopi se-sumbar.
[12] http://www.pbhisumbar.org/ PBHI Sumatera Barat diakui sebagai tempat sebahagian aktifis HMI (kader dan alumni HMI) walaupun tidak semua anggota PBHI Sumbar berasal dari HMI.
[13] https://www.facebook.com/notes/khoiril-anwar/daftar-nama-560-anggota-dpr-ri-periode-2014-2019/10152423020631665
Share:

0 komentar:

Posting Komentar