Kamis, 11 Juni 2015

PEMUDA SUMBAR TIARAP

PEMUDA SUMBAR TIARAP
(dampak putusan praperadilan BG)

Oleh Andrian Habibi
Beraktifitas di Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Sumatera Barat

Paska putusan praperadilan BG yang berujung unjuk rasa dalam beberapa gelombang, terjadi hal yang sangat menyakitkan hati di sumatera barat. Dua Akademisi Fakultas Hukum Unand, CS dan FA, harus berurusan dengan kepolisian. Proses hukumnya pun masih diupayakan terhenti di penarikan berkas laporan.

Setelah itu, media massa pun bersitegang urat leher terkait wartawannya yang harus datang ke polda untuk dijadikan saksi. Padahal urusan wartawan dan berita yang dimuat itu urusannya dewan pers. Nampaknya polisi lagi-lagi tidak mengindahkan MoU yang ada. Beberapa waktu yang lalu Polri melupakan MoU-nya bersama Peradi. Bisa jadi sekarang kepolisian melupakan peran Dewan Pers.

Tidak berhenti hingga disini, Direktur LBH Padang yang menjadi koordinator lapangan (Korlap) aksi demontrasi pun harus menerima surat panggilan menjadi saksi di polda sumbar tanpa mengetahui saksi untuk apa dan persoalan yang mana?

Siapa lagi yang menyusul untuk dihadapkan dengan dampak putusan praperadilan hakim tunggal asal pariaman alumnus Unand ini. Jika semuanya dipanggil untuk dijadikan saksi, maka para rektor pun tinggal menunggu waktu untuk mendatangi polda sumbar. sudah bisa dipastikan, para akademisi akan lebih banyak sibuk di Polda Sumbar daripada menjalankan aktifitas akademisinya di kampus.

Lalu dimana sich peran pemuda dan mahasiswa? Perlu diingat saat beberapa waktu lalu terjadi aksi penolakan kenaikan harga BBM oleh koalisi mahasiswa di gedung DPRD Provinsi Sumbar berakhir pada penangkapan 8 orang aktifis oleh Polresta Padang. Semenjak maqribpun, setelah dari rumah sakit paska beraobat akibat main tangan para aparat, 8 mahasiswa ini harus mendekam di polresta padang. Mahasiswa yang salah satunya berinisial F dari UNP dengan bekas luka di pelipis mata, mengikuti proses tanya jawab dengan penyidik.

Kaitannya dengan pengantar penulis diatas adalah CS dan FA termasuk orang yang standby di polresta sebagai penjamin dari pihak akademisi/dosen agar 8 mahasiswa bisa keluar malam itu juga. walaupun akhirnya mereka dilepaskan kesekokan harinya. Point inti, CS dan FA beredia melawan waktu istirhaat untuk bersama para mahasiswa.

selain itu, LBH Padang beserta lembaga lain seperti LBH Pergerakan, PBHI Sumatera Barat, LBH Pers turut turun mendampingi ke-8 mahasiswa ini. Tanpa intruksi mereka menemani berjam-jam untuk mengupayakan pemeriksaan sesuai dengan prosedur. Lalu, saat CH, FA dan Direktur LBH Padang sedang ada persoalan yang berkaitan dengan aksinya saat demo, dimanakah para mahasiswa dan kekuatan pemuda sumbar khususnya di kota padang?

Dalam pandangan Asyirwan Yunus (2010) sejarah perjuangan bangsa Indonesia, gerakan mahasiswa seringkali menjadi cikal bakal perjuangan nasional, seperti yang tampak dalam lembaran sejarah bangsa, gerakan mahaiswa dalam sejarah di catat; dimulai tahun 1980 dengan berdirinya Boedi Oetomo, 1928 ada Sumpah Pemuda, 1945 terbentuk  kelompok setudi, 1966  tumbangnya Rezim Orde Lama dan 1947 terkenal dengan Malari, 1978  Pemberlakuan Konsep NKK/BKK, lalu 1990 dicabutnya konsep NKK/BKK serta 1998 sebagai puncak persatuan mahasiswa dan pemuda dalam agenda Reformasi.

Menilisik pada pendapat Asyirwan yunus, bahwa gerakan-gerakan mahasiswa/pemuda pengisi lembaran sejarah indonesia. Bagaimana dengan situasi dan kondisi pergerakan mahasiswa dan pemuda di sumatera barat?

Hingga sekarang KNPI sumbar dan kabupaten/kota belum mengeluarkan pendapatnya ataupun gerakannya terhadap isu-isu anti korupsi, sapu koruptor. Keheningan KNPI sebagai rumah gadang pemuda dan mahasiswa membuat gerakan anti koruptor hanya pada dunia NGO’s bantuan hukum beserta akademis.

KNPI Sumatera Barat memiliki susunan kepengurusan yang berasal dari pemuda pemudi terbaik se-sumatera barat. Ketum KNPI Sumbar juga beraktifitas sebagai advokat yang menang secara aklamasi. Pelantikannya masih terasa hangat menawarkan semangat perjuangan dan perubahan sebagai agent of change. Wajarlah, ketua umum dan seluruh pengurus KNPI Sumbar menghimpun dan menghimbau seluruh KNPI Kabupaten/Kota beserta OKP se-sumatera barat mengamankan para pejuang-pejuang muda yang terkena dampak putusan praperadilan BG.

Di lain sisi, mahasiswa yang kemarin dibantu untuk dibebaskan dari persoalan juga tiarap. Gelombang aksi yang sudah beberapa kali dilaksankan terasa sepi dari gerakan mahasiswa. Kalaupun ada, sebatas hubungan emosional dengan para NGO dan akademisi yang turun lapangan.

Mahasiswa di sumatera barat berjumlah jutaan, khusus di padang, UNP memiliki 30.000an mahasiswa, Unand memiliki 20.000an mahasiswa dan IAIN Imam Bonjol berjumlah belasan ribu mahasiswa. Jika bersatu dan berkumpul demi terwujudnya target SAPU Koruptor.

KNPI, OKP, beserta mahasiswa bersatu bisa menjadi isu nasional untuk memaksa legislator merevisi ulang UU KPK. Gerakan ini sama dengan gerilya pemuda indonesia yang berawal dari ranah minangkabau.

Salah satu pointnya mengupayakan terbentuknya KPK RI Perwakilan Sumbar. selanjutnya, mengupayakan penguatan akademisi dari isu-isu “ditersangkakan” akibat pandangannya secara keilmuan saat berorasi, menulis maupun berpendapat di media. Pemuda dan mahasiswa harus mendeklarasikan diri sebagai agent of social control dengan memperlihatkan perjuangan-perjuangannya.

Akhir kata mari kita merenungi pendapat dari Hasan Al Bana bahwa : Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang, pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda adalah rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji panjinya.Jangan sampai pemuda dan mahasiswa sekarang berpredikat sebagai generasi galau media sosial.

Oleh Andrian Habibi

Penulis beraktifitas di Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Sumatera Barat, yang beralamat di Jln. Belanti Barat VII, No. 101, Kel. Lolong Belanti, Kec. Padang Utara, Kota Padang. No HP : 085364472778
Share:

0 komentar:

Posting Komentar