Rabu, 17 Juni 2015

PERGERAKAN CAKADA DI BULAN PUASA

PERGERAKAN CAKADA DI BULAN PUASA

Oleh ANDRIAN HABIBI
Kabid PA Badko HMI Sumbar, beraktifitas di PBHI dan KIPP Sumbar

Setiap ummat islam termasuk para Calon Kepala Daerah (CAKADA) melaksanakan ibadah puasa secara massif diseluruh penjuru dunia di bulan ramdahan pada penanggalan hijiriyah. Ibadah yang dilakukan baik secara pribadi maupun kelompok akan dihadiahi dengan peningkatan drajat pahalanya, jauh bila dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain pada penanggalan tahun hijiriyah. Penegasan puasa tertuang dalam surah Al-Baqarah ayat 183 yang berarti “hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”.

Mamfaat dan Hikmah Bulan Puasa (Ramadhan) adalah; (1) Membuat kita lebih taqwa kepada Allah SWT; (2) Mendapatkan pahala yang berlimpah ruah; (3) Memberikan efek yang menyehatkan tubuh dan menghilangkan beberapa penyakit; (4) Melatih kita menahan hawa nafsu yang berlebihan; (5) Mendorong kita untuk selalu berbuat kebajikan; (6) Membuka peluang masuk syurga bagi yang bertaqwa; (7) Melatih sabar, pengendalian diri, disiplin waktu dan kejujuran; (8) Menghancurkan zat-zat kimia yang menghambat pergerakan aliran darah; (9) Mempererat silaturahmi ummat; (10) Menghapuskan dendam dengan budaya saling mema’afkan.

Momentum puasa dimamfaatkan semua kalangan seperti produsen, sales marketing, konsumen dan produknya sendiri, berupaya meraih setiap keberkahan bulan ramdahan (Puasa). Bulan Suci Ramadhan bagi para produsen memiliki 2 (dua) sisi keuntungan. Bagi sebagian produsen bulan ini merupakan titik terendah penjualannya, namun disisi lain ada pula yang merasakan bulan ini sebagai momentum tertinggi volume penjualan tahunannya.

Hal demikian memang benar, pertama, konsumen yang menjalankan ibadah puasa sudah barang tentu tidak akan mengkonsumsi produk makanan dan minuman selama masa Ramadhan, mulai dari awal subuh hingga maghrib, namun disisi lain, setelah berbuka nafsu konsumsi menjadi-jadi hingga terkadang tak terkendali serta di akhir bulan Ramadhan, akan ada Hari Raya yang biasanya menjadikan konsumen menjadi sangat konsumtif.

Sifat konsumtif ini ditujukan bukan hanya untuk produk makanan, minuman saja, tetapi juga produk busana serta personal (diri). Bahkan tingkat penjulan diri (komersialisasi personal) juga tinggi saat bulan puasa. Bulan Ramadan memiliki makna tersendiri bagi CAKADA dalam menjalani proses aktualisasi diri menuju gedung paripurna baik tujuannya di pusat, provinsi atau kabupaten. Kegitan bertema ramadhan pun memberikan efek luar biasa, selain beribadah sesuai dengan keyakinannya, CAKADA menjadi lebih agresif untuk menonjolkan jadwal ibadahnya kepada masyarakat yang akan menjadi pemilihnya disaat desember 2015.

Firmanzah, ekonom FE Uiversitas Indonesia berpendapat bahwa; ada dua modal yang paling menentukan saat seseorang ingin menang dalam pertarungan politik. Selain modal sosial, adalah modal kapital. Modal sosial adalah tingkat popularitas, sedangkan modal kapital adalah dari sisi financial. Politisi yang hanya memiliki modal kapital, akan memerlukan biaya yang sangat besar untuk "membeli" modal sosialnya. Gelontoran dana akan dialirkan untuk menyumbang kegiatan masyarakat, dan muncul di media lokal untuk memperkenalkan diri kepada publik.

Kalau modal kapitalnya rendah tapi dia populer, masyarakat tahu track recodr dengan jasa-jasanya, itu bisa terbantu. Bulan puasa (ramadahan), memberikan salah satu bukti hikmah keberadaannya bagi para CAKADA yang sedang berjuang dalam menngkatkan popularitas dengan cara komersialisasi diri sendiri. CAKADA yang beribadah bertukar-tukar mesjid akan mengurangi biaya transportasi massa kampanye dan itu menghemat pendanaannya. Cukup hadir saat sholat, ceramah, agenda-agenda keagamaan seperti MTQ maupun lomba lainnya, selesai kampanye tanpa mengkampanyekan diri.

Bidang adtribut kampanye, Imsakiyah dicetak menggantikan baliho atau spanduk, ibadah yang menguntungkan popularitas diri. Karna, biaya kampanye telah diambil alih oleh pemerintah. Kampanye spanduk, baliho dan media massa di”aman”kan oleh Pemerintah. CAKADA cukup melihat potensi kampanye lainnya, walaupun sudah banyak kampanye kepagian dengan berserakannya baliho dan spanduk Bakalan Calon yang mengaku Calon padahal belum ditetapkan oleh Penyelenggara Pemilu.

Selanjutnya, dakwah keliling dalam mengisi program remaja mesjid atau pesantren ramadhan juga berpengaruh dalam komersialisasi personal CAKADA di bulan Ramadan. Puasa juga bersifat universal, membuat para CAKADA berusaha untuk tidak memberikan janji palsu. Karena janji palsu akan mengurahi kadar ibadah puasanya. Selain meningkatkan kreatifitas CAKADA memasarkan idenya tanpa harus menjanjikan sesuatu yang tidak mudah untuk merealisasikan janji politiknya.

CAKADA juga bisa mengirit pengeluran karena tidak perlu bayar makan atau minum, kecuali dalam hal buka bersama dan itupun hanya satu kali dalam satu hari. Bila ingin irit, cukup berbuka bersama dengan bergandengan acara tokoh nasional. Strateginya, menjadwalkan agenda tokoh nasional untuk bersilaturahmi di kampung halaman dan CAKADA bisa nebeng berbuka. Cara ini adalah aplikasi “sambil menyelam minum air”, bila menyentuh hati rakyat bisa ditambah “dapat ikan dan mutiara” kepada ujung pepatah tersebut.

Bagaimanapun juga, penulis berharap CAKADA dapat mengurangi aktifitas politik yang berdampak pada pengaplingan kelompok-kelompok simpatisan selama puasa. Kepentingan politik dapat berdampak mengurangi nilai-nilai sosial para peminat kursi Gubernur, Walikota dan Bupati.

Penulis sependapat dengan Samaratul Fuad, seorang Advokad dan Ketua Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Sumatera barat yang menyatakan bahwa; “praktek-praktek hadis Rasulullah yang berbunyi dan sebaik-baiknya manusia adalah yang bermamfaat bagi manusia (H.R. Thabrani dan Daruquthni) dalam politik terlebih saat bulan puasa adalah mereka yang berpolitik dengan tujuan menjadikan diri sebagai tangan-tangan rakyat yang bermamfaat serta mengupayakan terlaksananya program-program pro kesejahteraan rakyat, mereka memperbanyak membantu masyarakat, memakmurkan mesjid, mengupayakan terwujudnya pemenuhan HAM serta menjadi profil percontohan bagi generasi penerus kepemimpinan bangsa dan negara Indonesia”.

Akhir kata, penulis mengingatkan kepada kita semua dan diri sendiri;  Berkah bulan puasa (ramadhan) seharusnya disyukuri dengan penuh keikhlasan yang mendalam, jika para CAKADA memahami besarnya peran bulan puasa (ramadhan) dalam menjalani aktifitas komersialisasi personalnya.

Oleh Andrian Habibi,

Penulis Ketua Bidang Pembinaan Anggota Badan Koordinasi Himpunan mahasiswa Islam (Badko HMI) Sumbar dan beraktifitas di lembaga Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Sumbar dan Komite Independen Pemantau pemilu (KIPP) Sumbar.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar