Minggu, 30 Agustus 2015

CAKADA BONEKA

CAKADA BONEKA
Oleh Andrian Habibi
Anggota KAWAL PILKADA Sumatera Barat

KPU telah menutup pendaftaran bagi para peminat kekuasaan daerah. Mau ikut maka pilkada lanjut. Bila sulit bersaing, pilkada mundur. Jangan tanyakan siapa yang salah. Karna memang inilah dagelan politik. Jauh dari kantor-kantor penyelenggara, ribuan kicauan pengamat politik meragukan segenap kehadiran calon dadakan di masa injury time cakada. Cakada ini langsung disebut sebagai boneka. Sedihnya, makhluk hidup yang berusaha meramaikan pesta demokrasi hanya disebut dengan boneka. Boneka politik, dianggap pesanan untuk terus melanggengkan kemenangan meraup suara. Mereka tidak dianggap bahkan hanya mainan. Disangkakan penerima uang politik tanpa harapan menang.
Benarkah cakada yang mendaftar saat injury time ini boneka politik? Bagaimana potensi kemenangan cakada boneka ini?
UU No 8 tahun 2015 jelas tidak memuat kata “calon kepadala daerah boneka” dalam seluruh susunan pasal. Ntah darimana kata cakada boneka ini muncul dan siapa yang harus mengkonfirmasi juga mengklarifikasi penamaan cakada boneka? Cakada boneka diartikan pasangan cakada yang bisa dimainkan (boneka = mainan) oleh pasangan cakada lain demi berjalannya tahapan pilkada. Siapapun dengan jabatan apapun tidak berhak mengatasnamakan paslonkada dengan boneka. Karna sesuai dengan konstitusi indonesia, setiap warga negara berhak untuk memilih dan dipilih. Kata warga negara berarti menunjukkan pengakuan akan hak hidup dan memiliki identitas sebagai rakyat suatu bangsa. Konstitusi diperkuat oleh kofenan HAM tentang Hak SIPOL menguatkan hak-hak sipil dan politik untuk berjuang sesuai dengan kepentingan kelompoknya (politik).
Pengamat boleh memberikan asumsi negatif pada mereka yang mendaftar diwaktu perpanjangan. Bisa jadi mereka dititpkan atau parpol pendukungnya didanani untuk mendukung paslonkada. Semudah itukah analisanya? Berapa biaya yang dikeluarkan untuk mendaftarkan paslonkada dengan dukungan parpolnya? Jangan keburu berfikiran negatif. Rakyat indonesia harus mulai berprasangka positif. Paslonkada diketahui membutuhkan waktu untuk meyakinkan DPP parpol agar meraih bubuhan tanda tangan di surat rekomendasi dukungan parpol. Bahkan tersebar desas desus komunikasi bahkan ruwet hingga saat pendaftaran paslonkada.
Kesempatan paslonkada yang mendaftar di injurytime membuktikan beberapa hal; Pertama, panlonkada ini siap berjuang dengan paslonkada terkuat. Toh buktinya masih sanggup berjuang meraih dukungan parpol. Terlepas dari segala bentuk perdebatan akan mahar politik. UU Pilkada maupun PKPU tidak membuka ruang transparansi partai. Begitu juga DPP Parpol yang menandatangi surat dukungan paslonkada. Realitanya mereka meraih dukungan parpol.
Kedua, paslonkada tersebut bisa memamfaatkan isu “calon boneka” untuk menggerakkan hati rakyat. Isu politik bisa menambah pundi-pundi suara berbekal nada keikhlasan menghadapi segala tudingan. Semangat dan nilai luhur Pancasila serta pengedepanan Hak Asasi Manusia memungkinkan alat pembenar keterlambatan pendaftaran di KPU. Siapaun bisa saja kesulitan dalam mendaftar di KPU. Hantaman isu malah meningkatkan pamor bak selebiriti yang dibiacarakan oleh semua mult.
Ketiga, paslonkada lebih fokus mengampanyekan diri secara gerilya karna tidak bisa diprediksi sebelumnya. Tim pemenangan dengan sigap tapi santai mengaburkan langkah-langkah politik lawan. Langkah per langkah menjadi kabut asap komunikasi politik tanpa memperlihatkan kebenaran strategi dibalik kumpulan asap.

Tiga bukti panlonkada injurytime menumbuhkan secercah harapan memenagkan persaingan dalam kancah politik pilkada. Pemamfaatan ruang-ruang kosong kampanye yang terlalu digembar bemborkan oleh paslonkada yang mendaftar terlebih dahulu. Pemamfaatan kampanye ini menemukan kelemahan kampanye pasnlonkada saingan. pagi, masih terlalu dini meninjau peluang paslonkada. Karna politik tidak mengenal hitungan pasti walau menggunakan banyak tenaga konsultan dan lembaga survey. Siappun bisa memang, siappaun bisa kalah. Politik terlalu indah untuk diterka dan penuh misteri bagi pengamat (akademisi).
Share:

0 komentar:

Posting Komentar