Jumat, 14 Agustus 2015

PEMIMPIN SIAP MENDERITA

PEMIMPIN SIAP MENDERITA
OLEH ANDRIAN HABIBI
Kabid PA Badko HMI Sumbar, Beraktifitas di PBHI dan KIPP Sumbar

Een leidersweg is een lijdesweg leiden is lijden yang artinya Jalan Pemimpin bukan jalan yang mudah, memimpin adalah menderita, pesan Kasman Singodimedjo kepada Haji Agus Salim. Ungkapan ini membuktikan bahwa sebagai seorang yang berpengaruh, pandai dan tenang dalam urusan agama Islam serta memiliki kemampuan dalam berbagai bahasa asing merupakan potret pemimpin yang mau menderita. Kesederhanaannya berusaha mengajarkan bahwa memimpin tidak mengenal kesenangan pribadi namun berjuang untuk kebahagiaan yang dipimpin baik itu anak buah, anggota kelompok maupun rakyat.
Zaman sekarang, banyak yang melupakan tahapan (proses) menjadi pemimpin. Mungkin mereka perlu diingatkan pepatah berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian yang tidak dipakai secara keseluruhan (amalan). Maksudnya, kesenangan kemudian hanya untuk yang dipimpin (rakyat). Karna pemimpin harus siap menderita, itu lah jalan kepemimpinan.
Belahan dunia lain bernama India, penegasan perjuangan gaya kepemimpinan ini dilakukan oleh Mahatma Gandhi yang berjuang dengan gerakan ahmisa (antikekerasan). Gerakan ini menanggalkan simbol kemewahan, kesombongan dan ati kekerasan serta menawarkan kemandirian. Kesenangan sebagai pemimpin tidak bisa diutamakan dalam memimpin terlebih saat kondisi perekonomian rakyat tak jua menemukan perbaikan. Kemiskinan yang merata membutuhkan persamaan “rasa” antara pemimpin dengan yang dipimpin. Tidak harus sama merasakan.
Pemimpin harus bisa mewajarkan kehidupan sehari-harinya dengan menjauhkan diri dari kemewahan dan hura-hura. Saat ini banyak Pemimpin low profile ditunjukkan dalam dagelan wayang “pencitraan” untuk meraih simpati. Keberhasilan menjadi pemimpin dadakan dalam panggung ini menolak proses tahapan menjadi pemimpin. Pemimpin yang menderita terlihat dalam tempo singkat, alasan sederhana untuk menumbuhkan kepercayaan yang dipimpin bahwa dia seorang yang perhatian terhadap situasi dan kondisi yang dipimpin.
Sayang sungguh disayangkan, pemimpin yang dikatakan Kasman Singodimedjo sangat jarang ditemukan. Terlebih dalam kondisi perpolitikan bangsa yang carut marut. Bukan siap menderita, tapi susah untuk menderita. Bagaimana tidak, pemimpin saat ini lebih suka menggunakan fasilitas negara dalam kesehariannya. Padahal, jika dalam masa kampanye dia sanggup menabur uang, menyebar rezeki dan memupuk harapan dengan kekayaannya. Pemimpin tersebut sangat wajar menggunakan uangnya untuk membeli rumah bukan tinggal di rumah dinas. Uang pribadi untuk membiayai mobil, minyak dan sopir, bukan malah memamfaatkan “plat merah”.
Kalau ditanya kepemimpinan ahmisa Mahatma Gandhi, jangan harap. Lihat saja perseteruan pemilihan pimpinan DPR RI yang dipertontonkan oleh media televisi. Hiruk pikuk penuh emosi, mendorong meja serta menghilangkan palu. Jangankan antar legislator, para Dewan terhormat dalam satu parpol juga berebut ruang fraksi dengan bangga dihadapan para awak media. Ada juga legislator yang baku pukul karena perselisihan pendapat. Jauh-jauh sekali gaya kepemimpinan Mahatma Gandhi di negeri penuh instrupsi sidang para elit politik.
Kedepan, pertarungan sengit elit politik akan serenak menghiasi jagat perebutan kuasa daerah di Indonesia. Setelah pendaftaran bakal calon pilkada serentak 2015, ribut-ribut elit dan pengamat politik menyemarakkan opini yang berserakan di penjuru bumi nusantara. Pasangan bakal calon kepala daerah yang terdaftar di KPU sudah membuat pengotak-kotakan kelompok parpol pendukung. Ada yang mengikut sejarah politik pilpres (KIH dan KMP), atau mengutak atik susunan dukungan parpol sesuai dengan kesenangan dan kemungkinan kemenangan pilkada.
Pemimpin yang tak berkesempatan memeriahkan Pilkada 2015 karena faktor tak meraih dukungan parpol atau memilih mundur akibat Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Republik Indonesia dengan nomor putusan 33/PUU-XII/2015. Mundur karena dukungan DPP Parpol tak diraih dan beberapa parpol yang sedang bersengketa tak sama pandangan untuk mendukung calon penguasa daerah tersebut. Dilain sisi, Putusan MK mengiris harap menerkam angan para legislator yang berharap maju dan kembali berkuasa di DPR/DPRD saat tak terpilih.
Kesemuanya sama saja, meninggalkan alat atribut berserakan tanpa bertanggungjawab untuk kembali membersihkan baliho dan spanduk. Apakah masih bisa dikatakan sebagai pemimpin? Jangan tanyakan kepada dirinya, karena sudah tentu kita akan menerima jawaban normatif penuh alasan yang tidak logis.
Akhirnya, kita harus menunggu kehadiran Ratu Adil atau Pemimpim pemersatu bangsa datang dengan cahaya. Kepemimpinannya bersinar dengan sifat siddig, tabliq, amanah dan fathonah yang diajarkan oleh Masenger of God Salallahu ‘Alaihi Wassalam (Nabi Muhammad SAW). Siapa diantara bakal calon yang memiliki sifat kepemimpinan Rasulullah ? silahkan analisa dengan teliti serta seksama. Menyerupai mungkin sulit, tapi memiliki potensi besar kepemimpinan Rasulullah bisa jadi. Jangan sampai membeli (memilih) kucing dalam karung.


Oleh Andrian Habibi,
Penulis Ketua Bidang Pembinaan Anggota Badan Koordinasi Himpunan mahasiswa Islam (Badko HMI) Sumbar dan beraktifitas di lembaga Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Sumbar dan Komite Independen Pemantau pemilu (KIPP) Sumbar.

Penulis beralamat di Jln. Belanti Barat VII, No. 101, Kel. Lolong Belanti, Kec. Padang Utara, Kota padang. No HP : 085364472778
Share:

0 komentar:

Posting Komentar