Jumat, 02 Oktober 2015

HENTIKAN TANGISAN TRAGEDI MINA

HENTIKAN TANGISAN TRAGEDI MINA
Oleh Andrian Habibi
Kabid PA Badko HMI Sumbar, Anggota PBHI & KIPP Sumbar serta tergabung di Koalisi KAWAL PILKADA
Ibadah haji merupakan ibadah yang pelengkap dari 5 rukun Islam, penggilan haji begitu menggema hingga ke relung hati yang terdalam. Haji menjadi gelar terindah bagi umat islam. siapapun kita, saat ditanya keinginan berangkat haji. Jikalau mau jujur, dari palung hati terdalam memimpikan berangkat ke mekkah untuk melaksanakan ibadah haji. Akan tetapi, terkadang ibadah menyisakan sedikit cerita duka. Duka tahunan yang sulit terlupakan dan ntah dimana titik salah. Kenapa tragedi MINA harus terjadi?
Berita memberikan kabar duka ini, 24 september 2015. Insiden duka terjadi sekitaran pukul 09.00 waktu setempat saat jemaah haji akan melempar jumrah. Pukul 08.00 – 11.00 merupakan waktu terpadat melempar jumrah. Niatan beribadah dengan khusuk pun terusik dengan perdebatan kecil hingga saling dorong. Sungguh pedih, pelaksanaan ibadah harus memakan korban akibat terinjak-injak. Lebih kurang 717 orang meninggal dunia dan 805 orang luka-luka.
Terbayang di angan kita, betapa rintihan suara memohon bantuan beradu dengan suara takbir. Tak kuasa kita membayangkan pergerakan manusia diatas manusia lainnya. Apakah ibadah membolehkan penginjakan sesama hingga akhirnya meregang nyawa?
Kompas (25/9) memaparkan data bahwa sudah banyak rangkaian Tragedi Mina. 2 juli 1990 menggemparkan dengan 1.426 jamaah meninggal dunia. 23 mei 1994, korban mencapai 270 orang meninggal dunia. 9 april 1998 ada 118 orang meinggal dunia dan 180 orang luka-luka. 5 maret 2001 jumlah menurun, korban 35 orang meninggal dunia. 2003 jamaah yang meninggal 14 orang.
Rangkaian peristiwa ini harusnya bisa kita lihat dari seluruh aspek penilaian. Memang benar perkara meninggal dunia adalah takdir Tuhan. Akan tetapi patutkah kita berdiam diri melihat rangkaian peritiwa Tragedi Mina? Tidak bisa, harus ada kajian dan perbaikan penguatan praktek ibadah untuk menurunkan potensi “penginjakan” berdampak kehilangan nyawa.
Tragedi mina adalah bentuk nyata bahwa kepadatan dalam pelaksanaan haji menjadi faktor utama. Kepadatan membuahkan pemikiran di segenap diri jamaah untuk memilih waktu dalam melempar jumrah. Padatnya jemaah telah diantisipasi dengan pembangunan jembatan tingkat lima. Tetapi, tetap saja menjadi soal saat beradunya jamaah dari arah yang berlawanan.
Masalah lain yang penulis lihat adalah kuatnya rasa cinta untuk melaksanakan ibadah haji memupuk semangat berjalan. Kekuatan dalam diri untuk menyegerakan rangkaian haji. Semangat ini terkadang mengupayakan kerja keras untuk mencari posisi atau melewati setiap halangan di hadapannya.
Kuatnya keinginan melempar jumrah dalam Tragedi Mina juga memperlihatkan ketidakteraturan kita untuk mendahulukan jamaah yang keluar dan masuk. Seakan-akan kita melihat ego-ego individual untuk melewati para jamaah hingga mungkin tak menyentuh hati bila ada yang terjatuh dan akhirnya harus ikut menginjak dengan alasan tidak sengaja atau tak mampu menolong karna kepadatan.
Menguatkan teknis
Otoritas arab saudi sudah berupaya dalam peningkatan kualitas pelayanan ibadah haji bagi jamaat. Pembangunan sarana dan prasarana setiap tahun mengalami perbaikan. Indah rupawan lokasi-lokasi yang berhubungan dengan ibdah haji. Akan tetapi, masalah yang timbul adalah aturan teknis dan aturan lebih detil.
Ibadah menjadi hubungan antar manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia. Pemerintah berupaya agar hubungan ini mudah dan nyaman. Permasalahan teknis ini harus diatur diantaranya mengatur jam-jam melaksanakan lempar jumrah. Waktu ini mengikuti masukny jamaah untuk melempar jumrah dan keluarnya jamaah menuju tenda disekitar Mina.
Pembahagian waktu bisa dipaksanakan demi menjaga keamanan dan kenyaman. Pandangan ini bisa saja tidak disukai oleh banyak pihak. Alasannya bisa jadi peran pemerintah tidak harus mengatur hingga suatu yang detil atau mengharuskan beberapa kelompok melempar jumrah diwaktu kelompok tersebut tidak menginginkan waktu tersebut. akan tetapi, atas nama menjaga setiap nyawa jamaah, pembahagian waktu dan barisan harus rela diterima untuk menjegak desakan dan aksi saling dorong.
Selain itu, aturan lainnya adalah memanjangkan antrian hingga barisan lurus kebelakang seakan akan dalam bentukan baris berbaris. Didikan ala militer, pramuka atau bahkan bisa belajar dari sekawanan semut. Satu jalur kebelakang lurus dan teratur. Panitia pelaksana internal atau bisa memohon bantuan pihak militer untuk menjadi pengarah barisan dibeberapa lokasi demi menjamin lurusnya barisan jamaah.
Aturan ini bisa memisahkan antara satu jamaah dengan jamaah lain dalam kelompok yang sama atau dari keluarga sendiri. Pembarisan ini memang membutuhkan kesediaan jamaah agar bisa diatur dan ditentukan barisan mana dia berjalan. Barisan lansia dan disabilitas, yang sakit, wanita, lelaki kuat dan remaja harus memilliki barisan tersendiri. Bagi lansia dan disabilitas harus diutamakan dan diatur berjalan lebih dahulu daripada yang kuat secara fisik dan energi berjalan.
Budaya sabar dan ikhlas
Kita tahu dalam keseharian banyak terlihat ajaran yang menguatkan kita untuk bersabar dan ikhlas. Kemacetan jalan raya, membeli tiket kereta atau bus, memesan masakan di warung, membayar biaya administrasi di kantor atau dalam pengurusan apapun. Budaya sabar terlihat jelas dan terang benderang.
Sabar dan ikhlas terbentuk dari pengalaman keseharian. Merelakan yang tua dan mendahulukan yang sakit juga mengutamakan penyandang disabilitas. Aktifitas harian ini memupuk kesabaran dan keikhlasan serta rasa mengalah demi mencapai tujuan sama untuk menyelesaikan suatu urusan tertentu.
Selain itu, kesabaran dan keikhlasan terlihat dari budaya antri. Kita akan berada di tempat dimana kita berada. Antrian mengajarkan kita menunggu giliran untuk maju dan tidak berebut jalan. Lihat lah di bank-bank, kantor pos atau di kantor tempat mengurus suatu administrasi atau saat kita memasuki bandara untuk chek-in. semuanya teratur dalam barisan dan satu persatu berjalan sesuai urutan.
Penulis memang tidak pernah haji tapi memimpikan untuk haji selalu ada di hati dan fikiran. Dengan alasan kemanusian kita harus menguatkan teknis dan budaya antri demi menjaga kesalamatan dan menolong jemaah yang terjatuh. Tiada alasan apapun membiarkan saudara saudari kita harus menahan sakit yang bisa saja kita salah satu orang yang menginjaknya.
Akhirnya, bersabarlah dalam beribadah dan ikhlaslah untuk menjalankan ibadah. Selalu siap sedia menahan diri dari kuatnya kenginan melangkah. Selalu tolong menolong lah dalam beribadah agar sama-sama merasakan nikmatnya ibadah. Kita berikhtiar demi kecintaan akan panggilan Tuhan ke tanah suci. Maka jangan biarkan tangisa Tragedi Mina terus menerus melantunkan irama kepedihan disela takbir yang dikumandangkan.



Oleh Andrian Habibi,
Penulis Ketua Bidang Pembinaan Anggota Badan Koordinasi Himpunan mahasiswa Islam (Badko HMI) Sumbar dan beraktifitas di lembaga Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Sumbar dan Komite Independen Pemantau pemilu (KIPP) Sumbar serta tergabung dalam KOALISI KAWAL PILKADA.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar