Jumat, 02 Oktober 2015

KURBAN & KEPEDULIAN PENGUASA

KURBAN & KEPEDULIAN PENGUASA
Oleh Andrian Habibi
Kabid PA Badko HMI Sumbar, Anggota PBHI & KIPP Sumbar serta tergabung di Koalisi KAWAL PILKADA
Kesediaan berbagi ditengah kesulitan ekonomi merupakan ciri kehidupan rakyat nusantara Indonesia. Negri penuh pesona dengan budaya beragam berbingkai kebersamaan. Negeri yang memandang penyatuan dalam spektrum campuran pandangan dari warna pelangi perbedaan.
Rakyatnya (dahulu) terkenal suka tolong manolong dan bahu membahu meringankan derita sesama. Sakit sama diobati, berat sama dipikul ringan sama dijinjing, mematri di relung hati terdalam. Terlebih saat ini, harinya berkurban bagi umat islam se dunia, ya idul adha. Bukan hanya pelaksaan haji, juga menjadi waktunya berbagi.
Berbagi tak kenal situasi dan kondisi terlebih masa-masa pemilihan kepala daerah. Siapapun dan kapanpun bisa berkurban. Yaaa, Hari berkurban menjadi penguji kesiapan para pasangan calon kepala daerah untuk berbagi dengan rakyat. Penguasa membuktikan kesiapannya mengabdi dengan menyatu dalam pembagian rezeki.
Bukan hanya paslonkada, segenap tim pemenangan maupun donatur yang memiliki kelapangan rezeki sedianya membagi rasa menikmati karunia. Karna, secara penghasilan dan pendapatan, mereka bisa saja berkurban dan saling berbagi. Harta kekayaan yang dilaporkan ke KPK menjadi landasan penguat bahwa paslonkada dan beberapa pengusaha yang mendukungnya bisa dan mampu untuk berkurban.
Secara naluriah, jika kita membiasakan berbagi maka orang lain juga mengupayakan berbagi. Apakahkah berbagi dalam bentuk rezeki yang berdampak dengan berbagi suara untuk meminpin daerah? Semuanya kembali kepada tingkatan kepedulan dan keikhlasan masing-masing.
Di sisi agama, kita hidup di dunia diupayakan untuk memperkuat hubungan dengan Tuhan (hablun minallah) sekaligus menguatkan hubungan dengan sesama (hablun minannas). Hubungan dengan Tuhan ditandai dengan pelaksanaan Ibadah Haji salah satunya. Sedangkan penguatan hubungan sesama ditandai dengan kesediaan berbagi antara si kaya dengan si miskin, antara calon penguasa dengan yang di kuasai.
Hal ini membuat kurban disebut sebagai ibadah sunnah muakkadah (sunah yang sangat dianjurkan). Ayat Tuhan menjelaskan pentingnya kurban; “sesungguhnya Kami telah memberikanmu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karna Tuhanmu, dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus” (at-kautsar; 1-3).
Berkurban bukanlah sesuatu tindakan yang termasuk dalam kategori kampanye. Kurban ada setiap tahun dan menjadi runitas bagi si kaya yang ingin berbagi dengan si miskin. Jika keikhlasan menjadi dasar dalam aktifitas berbagi, sudah sepatutnya paslonkada berbagi dengan tidak mengungkapkan.
Berkurban mengharuskan keikhlasan dan kerelaan tanpa hiruk pikuk pernyataan. Tak penting oarng tahu kita berkurban. Karna pemberitahuan hanya akan menambah gelombang perdebatan tanpa batas dan mengurangi nilai-nilai saat berkurban. Cukup lah panitia kurban yang mengetahui asal kurban dan menyampaikan kepada masyarakat bahwa yang dikurbankan berasal dari hamba Tuhan.
Kepedulian sosial
Kurban, sejarahnya merupakan tindakan kerelaan yang mengharuskan menusia memegang prinsip keikhlasan beribadah dan tunduk serta patuh atas wahyu Tuhan. Pelaksanaan kurban memiliki peranan penting untuk terus menerus mengingat tentang jalinan silaturahmi sesami sekaligus pengingat terhadap jarak strata sosial yang harus diperdekat. Selain itu, kuran juga menjadi ajang pembuka senyum utnuk mereka yang jarang menikmati masakan nikmat ala makanan restoran maupun hotel.
Kepedulian sosial sudah dibahas oleh banyak orang bahkan seminggu kedepan akan ramai. Tema berbeda dengan tujuan yang sama; membuat dan menguatkan empati kepada sesama manusia. Kepedulian sosial merupakan jembatan penghubung antara hati dengan hati dan tindakan dengan tindakan untuk saling peduli dalam bingkai komunitas sosial yang lebih besar.
Lalu, bagaimana bentuk kepedulian calon penguasa dalam menjelaskan tindakan kepedulian sosialnya? Asas transparansi dan akuntabilitas tidak serta merta mengharuskan paslonkada mengekspos kegiatan kurban yang difasilitasinya ke media sosial. Karna ini akan menurunkan nilai ibadah yang lebih menjurus pada alat kampanye. Bila terlalu narsis, pelaksanaan kurban malah menimbulkan polemik dan kecemburuan sosial bagi yang tak mampu berkurban.
Jikalau peminat kursi kekuasaan mengharapkan ibadah kurban menjadi jalur kepedulian sosial. Maka, mereka bisa memilih dan memilah lokasi atau daerah dengan penduduk berpenghasilan rendah. Penduduk dalam kategori ini bisa dijumpai di pesisir pantai, pedalaman hutan, dan daerah-daerah terpencil lagi terisolir.
Biaya kurban yang lumayan tinggi dan sulitnya akses tranportasi juga komunikasi menjadi salah satu penghalang dalam hal “kebersamaan” menikmati karunia Tuhan. Oleh karena itu pendataan dan pengususan bagi mereka sangat penting untuk menjaga kepedulian sosial. Artinya, bentuk kepedulian bukan hanya dalam angan dan mimpi berbentuk kertas-kertas janji tapi hubungan langsung tanpa sekat dan niatan kampanye.
Teknis kepedulian sosial seperti ini dapat memotivasi siapapun untuk turut membagikan sebahagian nikmat dari Tuhan yang diperolehnya. Sembari berkomunikasi langsung dengan rakyat-rakyat yang kurang beruntung dari segi penghasilan dan perekonomian. Agenda ini diakhiri dengan pembekalan penguatan kepedulian sosial yang bertujuan untuk saling menguatkan tingkat penghasilan dan pendapatan suatu masyarakat dengan target awal bisa berkurban untuk komunitas tersebut.
akhirnya, mereka (penduduk) memahami pengetahuan serta makna berkurban dan mamfaatnya dalam penguatan kepedulian sosial. Pendidikan kurban dan kepedulian sosial lebih diutamakan daripada mengkampanyekan diri dan pasangan. Bila hati sudah disentuh, maka cinta akan diraih, lalu suara rakyat suara Tuhan bisa diperoleh.

Oleh Andrian Habibi,
Penulis Ketua Bidang Pembinaan Anggota Badan Koordinasi Himpunan mahasiswa Islam (Badko HMI) Sumbar dan beraktifitas di lembaga Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Sumbar dan Komite Independen Pemantau pemilu (KIPP) Sumbar serta tergabung dalam KOALISI KAWAL PILKADA.


Share:

0 komentar:

Posting Komentar