Kamis, 31 Desember 2015

MEMASTIKAN SUARA PEMENANG

(evaluasi quick count dan real count)
Oleh Andrian Habibi
Anggota Koalisi Kawal Pilkada dan KIPP Sumatera Barat

Pemilihan Gubernur, Wakil Gubernur, Walikota Dan Wakil Walikota, Bupati Dan Wakil Bupati kelar dilaksanakan pemungutannya pada tanggal 9 desember 2015. Datang, coblos, hitung dan heboh. Kenapa heboh? Karena beberapa hal seperti suara banyak hilang, pemilih ngak datang atau menang dengan bahagia. Heboh juga dengan aksi selfie yang disebar via media sosial. Lihat saja akun facebook, path, twitter atau media sosial lainnya saat tanggal 9 desember 2015. Banyak gambar akan terpampang dengan berbagai pose baik sebelum atau sesudah mencoblos.
selain itu, quick count atau hitung cepat juga memberikan kontribusi besar menambah kehangatan yang tiada perlu. Hitung cepat hanya program yang dilaksanakan dengan pertimbangan kerja pemberi harapan cemas. Deg degan tiada arti pun menyelimuti jiwa para pemeran politik mulai dari kandidat hingga tim pemenangan juga masyarakat pemilih. Angka-angka dalam bentuk persentasi seakan menghantui kehidupan. Dia menjadi hantu yang diperbincangkan tanpa perduli bagaimana cara mengahiri ketakutan akan angka tersebut.
Hitung cepat menggunakan teknik pemilihan beberapa sampel TPS untuk memberikan gambaran hasil suara yang diperoleh. Benar, hitung cepat tidak bisa mewakili keseluruhan suara yang dipungut dan dihitung. Hitung cepat memberikan berita gembira dan sedih, gembira bila menang dan sedih bila kalah. selesai sampai disitu.
Penulis melihat beberapa relawan hitung cepat saat tanggal 9 desember 2015. Mereka bergerak dengan arahan dari pemberi program. Terlintas di fikiran kita adalah kenapa hasil pemungutan suara harus berlama-lama diketahui. Seharusnya sore, para pemenang pilkada bisa diketahui.
Alasannya sederhana; setiap saksi yang ditugaskan di setiap TPS mengirimkan sms (pesan singkat) kepada para kandidat. Maka tim kabupaten bagi calon pasangan bupati dan wakil bupati atau tim provinsi bagi pasangan calon gubernur dan wakil gubernur bisa mentabulasi perolehan suaranya. Sedangkan rekapitulasi hanya prasyarat teknis dalam proses pilkada. Bukan kah lebih sederhana dan lebih cepat?
Kenapa kita melupakan suatu proses yang begitu mudah dan simple dari keberadaan KPPS, Saksi, Pengawas TPS dan Pemantau? Keberadaan mereka bisa menjadi satu kesatuan yang memastikan perolehan suara di setiap TPS. Secara langsung mereka akan memberikan laporan cepat kepada pihak-pihak berkepentingan.
Oleh karena itu, ke depan kita tidak akan melihat perolehan sementara atau persentasi kepemenangan sepasang kandidat. Melainkan mampu melihat kemungkinan besar perolehan suara. Kemungkinan kecil lainnya hanya keterlambatan perolehan suara di beberapa wialayah yang terisolir dan tak bersinyal.
Tabulasi jumlah perolehan suara via pesan singkat membutuhkan prasyarat kejujuran dan kehati-hatian. Karna, salah mengetik jumlah perolehan suara di tubuh pesan singkat berakibat besar pada perolehan keseluruhan suara. Bila tidak jujur pun bisa menyuburkan praduga buruk kepada tim bila kalah atau menyalahkan penyelenggara pilkada. Dua syarat tersebut mesti diingatkan kepada pihak-pihak yang berada di lokasi TPS agar bisa menjamin kepastian jumlah suara.
Evaluasi lah setiap tahapan jangan sekedar mencermati setiap tahapan. Evaluasi yang berkesan selama ini baru sebatas scanning perolehan suara. Itu pun tidak serta merta bsia dilaksanakan dengan pelbagai alasan. Kalau pun cepat, hasilnya baru bisa di cek beberapa hari kedepan.
Penulis berharap suatu saat kita bisa menyelesaikan kegelisahan jumlah suara para pasangan calon kepala daerah. Di saat itu, saat kita mencoblos dan disaat itu terpampang jelas berapa perolehan suara dan jumlah partisipasi pemilih. Apapun programnya, mari kita menunggu penyelenggara pilkada kedepan merealisasikan.


Oleh Andrian Habibi,

Penulis Ketua Bidang Pembinaan Anggota Badan Koordinasi Himpunan mahasiswa Islam (Badko HMI) Sumbar dan beraktifitas di lembaga Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Sumbar dan Komite Independen Pemantau pemilu (KIPP) Sumbar serta tergabung dalam KOALISI KAWAL PILKADA. Penulis beralamat di Jln. Belanti Barat VII, No. 101, Kel. Lolong Belanti, Kec. Padang Utara, Kota padang. No telp (0751) 41062;
Share:

0 komentar:

Posting Komentar