Minggu, 14 Februari 2016

Mengenal HMI

5 februari 2016, menandakan 69 tahun HMI sebagai organisasi mempertahankan eksistensi sebagai wadah candradimuka mahasiswa. HMI dengan jumlah 20 Badan Koordinasi dan 202 cabang di kabupaten/kota se-Indonesia. Ditambah puluhan tokoh HMI menjabat di di Pemerintahan dan lembaga lain. Tetap saja masih menumbuhkan pertanyaan bagi halayak ramai, apa itu HMI?
Wajar jika banyak yang masih belum mengenal HMI. Karena pertumbuhan penduduk membuka peluang jumlah mahasiswa setiap tahun turut meningkat. Sedangkan HMI terlalu sibuk dengan kajian internal organisasi. sehingga sangat realistis bila banyak mahasiswa dan masyarakat yang tidak mengenal HMI. Penulis berusaha mengenalkan HMI berdasarkan pada Anggaran Dasar. Cara sederhana menjelaskan apa itu HMI? Agar masyarakat Indonesia mengetahui kebenaran HMI. Bukan sekedar opini negatif atas kekurangan-kekurangan organisasi.
HMI adalah salah satu organisasi mahasiswa yang ada di Indonesia. Organisasi ini bernama Himpunan Mahasiswa Islam, disingkat HMI (Pasal 1). Jelas bahwa HMI bukanlah Himpunan Mahasiswa Indonesia, sebagaimana orang awam memanjangkan tiga kata HMI. Jendral Soedirman sempat menyampaikan bahwa HMI bukan hanya Himpunan Mahasiswa Islam tetapi Harapan Masyarakat Indonesia. Namun hal tersebut tidak mengubah nama, sebatas pujian atas kerja sama HMI dan TNI.
HMI didirikan di Yogyakarta pada tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H bertepatan dengan tangal 5 februari 1947 M untuk waktu yang tidak ditentukan dan bertempat di Pengurus Besar HMI (Pasal 2). Perdebatan antara kata dies natalis dengan penanggalan masehi dan milad sebagai penanggalan hijriyah. Sebatas riuk air dinamika internal. Tetap saja, kelahiran tersebut memberitahukan kepada semua orang usia HMI.
Selanjutnya, HMI berazaskan Islam (Pasal 3). Dan tujuan HMI adalah “Terbinanya Insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahu wata’ala” (Pasal 4). Tafsir tujuan ini yang dikenal dengan 5 Kualitas Insan Cita dengan 17 indikator kader paripurna. Insan Cita adalah profil kader HMI yang seharusnya bisa dicapai dengan memenuhi setiap indikator. Namun harus jujur bahwa sulit bagi kita menemukan karakter atau percontohan kader HMI dengan 5 Kualitas Insan Citanya.
Usaha-usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan dan menggerakkan organisasi HMI antara lain; (a) Membina kepribadian muslim untuk mencapai akhlakul qarimah; (b) Membina pribadi muslim yang mandiri; (c) Mengembangkan potensi kreatif, keilmuan, sosial dan budaya; (d) Mempelopori pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi demi kemaslahatan masa depan umat manusia; (e) Memajukan kehidupan umat dalam mengamalkan Dienul Islam dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara; (f) Memperkuat ukhuwah islamiyah sesama umat islam sedunia; (g) Berperan aktif dalam dunia kemahasiswaa, perguruan tinggi dan kepemudaan untuk menopang pembangunan nasional; (h) Ikut terlibat aktif dalam penyelesaian persoalan sosial kemasyarakatan dan kebangsaan (Pasal 5).
Agar usaha-usaha tersebut berjalan baik melalui program kerja baik PB HMI, Badko, Cabang dan Komisariat serta lembaga semi otonom. HMI wajib mempertahankan dan menegaskan sifat independen (Pasal 6). Memang hal ini yang sulit dijelaskan kepada masyarakat, bahwa tafsir independen HMI terbagi dalam 2 (dua) rumpun yaitu Independisi Etis (personal/pribadi kader) dan Organisatoris (himpunan). Secara sederhana, Indepedendi Etis adalah kemerdekaan kader yang telah dijamin sedari awal kehidupan di dunia dalam menentukan sikap dan tindakan juga pemikiran. Tetapi kemerdekaan ini masih terikat dengan dasar “kebenaran”. Sedangkan Independsi Organisatoris adalah ketidakberpihakan HMI terhadap kepentingan politik pragtis apapun. Kecuali langkah-langkah strategis dan taktis mengadvokasi masyarakat demi menjaga terwujudnya cita-cita luhur Kemerdekaan Indonesia sesuai amanah Pembukaan Undang Undang Dasar Negara republik Indonesia tahun 1945.
Sesuai dengan namanya, HMI berstatus organisasi mahasiswa (Pasal 7). Tentu saja mahasiswa tersebut harus dan wajib beragama Islam. hal ini dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau kartu pengenal lainnya. Persyaratan teknis mengikuti organisai HMI diatur saat seorang mahasiswa menjalani test masuk Latihan Kader I (LKI) HMI. sebagai contoh harus membaca Al-Qur’an dan menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar keislaman. Seterusnya, HMI berfungsi sebagai organisasi Kader (Pasal 8), artinya perkaderan mengutamakan pembentukan kader bukan sebatas anggota. Karena anggota hanya menambah kuantitas jumlah mahasiswa yang beraktifitas di HMI. di lain sisi, anggota yang menjadi kader adalah tulang punggung organisasi yang menjalankan usaha-usaha organisasi demi tercapainya tujuan HMI.
Oleh karena itu, HMI berperan sebagai organisai perjuangan (Pasal 9). Perjuangan disini bermakna usaha dan kerja keras yang teratur, tertib dan terencana untuk mengubah situasi dan kondisi yang buruk ke arah kebaikan sesuai dengan ridho ALLAH SWT. Perjuangan mencapai tujuan mulia pendirian HMI yang disampaikan oleh Lafran Pane. Tujuan awal itu adalah untuk mempertinggi harkat, martabat dan drajat rakyat Indonesia serta menegakkan dan mengembangkan Agama Islam.
Apabila masyarakat Indonesia berniat turut aktif di HMI. mereka haruslah berstatus mahasiswa di perguruan tinggi dan/atau sederajat yang ditetapkan oleh Pengurus Cabang HMI/Pengurus Besar HMI (Pasal 10). Agar lebih jelas keanggotaannya, HMI membagi keanggotan atas 3 bagian, yaitu; anggota muda, anggota biasa dan anggota kehormatan. anggota biasa lah yang memegang kedaulatan HMI (Pasal 11).
Lalu, demi menjaga proses kaderisasi termasuk dalam pesta demokrasi internal. Kekuasaan di HMI dipegang oleh Kongres, Konfrensi/Musyawarah Cabang (Konfercab/Muscab) dan Rapat Anggota Komisariat / RAK (Pasal 12). Kekuasaan ini melahirkan struktural kepemimpinan (Pasal 13), kongres melahirkan Pengurus Besar, Konfercab/Muscab melahirkan Pengurus Cabang dan RAK melahirkan Pengurus Komisariat. Seperti dijelaskan sebelumnya, banyaknya Cabang membuat PB HMI membutuhkan Badan Koordinasi (Badko) ditingkat wilayah yang dibentuk sesuai hasil Musyawarah Daerah. Badko sebagai perpanjangan tangan PB HMI mengupayakan pengorganisasian Cabang diwilayahnya. Bagi cabang-cabang HMI dengan jumlah komisariat yang besar diperbolehkan membentuk koordinator komisariat. Tugasnya menjadi perpanjangan tangan Cabang untuk mengakomodir setiap komisariat dan meneruskan ketetapan/keputusan cabang ke komisariat.
Mengenal HMI sama halnya kita memulai perkenalan dengan teman baru. Percakapan dimulai dengan menanyakan nama, usia dan tempat tinggal, agama, tujuan perjalanannya, usaha yang digelutinya, lalu sifat dan statusnya serta peran dan fungsinya dalam kehidupan keluarga dan kemasyarakatan. Terkadang percakapan akan lebih intin kepada berapa anggota keluarga, bagaimana dia memutuskan jalan hidup dan siapa yang menjadi kepala keluarga di rumahnya. Setelah itu kita akan memutuskan kemana akhir perkenalan tersebut, sebatas teman, sahabat atau menjadikan sebagai anggota keluarga. Artinya, penilaian awal terhadap seseorang sama dengan menilai sebuah organisasi, tak terkecuali HMI.
Penulis berharap cara pengenalan HMI bisa memberikan penilaian adil masyarakat terhadap organisasi. objektifitas harus didudukan sebelum memberikan hukuman terhadap orang perorang anggota atau alumni HMI. perbuatan anggota tidak serta merta menjadi alat hukuman bagi HMI. kecuali hal-hal negatif perorangan berasal dari ketetapan dan keputusan HMI. Prammodya Ananta Toer mengingatkan kita untuk adil sedari pemikiran.
Oleh Andrian Habibi
Depertemen LH Pengurus Besar HMI periode 2016-2018
Share:

0 komentar:

Posting Komentar