Selasa, 05 April 2016

JALAN KEBUDAYAAN


Oleh Andrian Habibi

Budaya, entah apa budaya itu, kurencanakan bertanya tanpa suatu maksud agar berbudaya. Sederhananya, apakah itu kebudayaan? Apa budaya? Siapa budayawan? Dan bagaimana agar berbudaya? Pahamkah saya tentang budaya dan kebudayaan? Atau saya seorang budayaan? Ahh jauh dari semua anggapan bahwa kebudayaan bisa dipahami secara sederhana.
Leon Agusta Institut (LAI) membuat memberikan pengertian panjang dengan jelas dan terang tapi tetap sulit ku pahami. Bukan dalam arti kita tidak memahami cerita panjang mulai dari etika antri yang memang sulit dipenuhi. Ya masih saja rebutan urutan menghantui saat kita membeli tiket suatu konser atau mendapatkan penghasilan Cuma-Cuma yang diberikan oleh pemerintah. Ada juga kisah panitia yang sering melebihkan pembelanjaan kepanitiaan demi membeli sebungkus rokok. Bukan soal transparansi sich, tapi pengurus biasanya tidak menganggarkan biaya rokok. Lagian biaya transportasi kan dari kantong sendiri. Wajarlah dia ambil uang rokok yang jelas mesti dilaporkan.
Orasi semangat jalan kebudayaan ini membahas ekonomi, sistem pemerintahan, penguatan konsep kebudayaan dan pendidikan. Ahh makin lama ku mulai merasa terlalu berat. Timbangan bahan materi penyampaiannya bukan sulit dimengerti tapi sedih bagaimana mana mau memulai. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Kalau jalan ini memang berliku, maka kita harus bersama menjalaninya. Begitulah buk Lia Agusta menawarkan kerjasama ikhlas penuh pengabdian bukan untuk sehari atau dua hari. Tahunan lah baru semangat ini menjadi realitas yang menjadi contoh dan model demi mengebalikan kejayaan masa lalu.

Semua hal ini disebut dalam hal budi pekerti sesuai dengan asal kata budaya itu sendiri. Budaya berasal dengan bahasa sanksakerta buddhayah yang berasal dari kata jamak buddhi (budi atau akal). Etika ini lah yang masuk dalam kajian budaya, seperti perang-perang antar kampung dalil hiruk pikuk siulan. Menggoyang di atas panggug dengan penuh rayuan nikmat asmara menghabiskan energi pemuda juga tiang kaji budi yang tergerus berulang kali.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar