Rabu, 24 Agustus 2016

MENULIS UNTUK MERDEKA



Oleh Andrian Habibi
Aktifis GERakan Ayo Menulis (GERAM) Sumatera Barat
Bila anda bukan anak raja atau pejabat maka menulislah. Karena menulis adalah kerja-kerja keabadian.
Masih banyak lagi kata-kata penyemangat untuk kita melakukan kegiatan tulis menulis. Kepentingan menulis sama pentingnya dengan kegiatan lain bahkan dalam perjuangan kemerdekaan. Dari menulis lah muncul pelbagai benturan dan himpunan pandangan rakyat demi mencapai kemerdekaan. Kenapa menulis begitu penting dalam mengisi kemerdekaan? Karena mamfaat menulis sangat terasa bukan hanya bagi penulis namun bagi pembaca.
Adapun mamfaat menulis antara lain (1) sebagai sarana penyampaian pandangan terhadap suatu persoalan; (2) sebagai alat komunikasi dan provokasi membangun gerakan massa; (3) sebagai alat kontrol sosial masyarakat kepada kebijakan pemerintah; dan (4) sarana belajar oleh masyarakat luas tanpa melihat latar belakang.
Mamfaat menulis sebagai bahan pelajaran masyarakat luas merupakan pengabdian para penulis mengisi kemerdekaan. Sebab salah satu cita-cita kemerdekaan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, yang dimaknai dalam kemudahan untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan pendidikan. Apakah pembelaran itu melalui proses formal atau non formal yang penting menjadi sarana bagi seluruh tumpah darah indonesia.
Menulis, khususnya opini koran, mejadi bentuk termurah bagi siapa saja yang berkenan untuk belajar. Bayangkan saja, seseorang rakyat baik pelajar, mahasiswa maupun rakyat yang tidak bersekolah bisa belajar hal yang sama. Kita hanya perlu mengeluarkan sedikit uang yang tak sampai seharga sebungkus nasi untuk mendapatkan pengetahuan.
Bila ditelisik lebih mendalam, karya tulis lah sarana belajar termurah bagi rakyat (pembaca). Namun, tidak serta merta kita mengakatakan bahwa lembaga pendidikan – formal atau tidak – harus disampingkan. Hanya saja, dengan membaca prosuk pemikiran berbentuk tulisan lah yang lebih mudah untuk dipahami dan diperoleh oleh masyarakat luas.
Demi menjaga mamfaat yang sangat luas dari budaya menulis dan tulisan, maka patutlah perjuangan mengisi kemerdekaan salah satunya difokuskan pada penguatan kualitas dan kuantitas tulisan. Karena program menulis adalah program peningkatan nama, jabatan serta penghidupan bagi penulis. Seseorang penulis mampu menghidupi diri dan keluarga serta memberikan pencerahan bagi teori atau aturan yang sulit dipahami.
Tulisan yang dimuat oleh media massa secara langsung mengharumkan nama si penulis sekaligus menambah mamfaat bagi rakyat. Namun menulis sekarang terkesan menakutkan terlebih melihat pengalaman mahasiswa tingkat akhir yang diharuskan membuat skripsi. Tulisan begitu mahal hingga kadang perlu menginap berhari-hari dirumah sakit. Kadang kala perlu membayar jasa penulis hantu untuk memudahkan penyelesaian skripsi.
Padahal tulisan adalah karya pemikiran yang tidak boleh terikat dengan pelbagai permasalahan teknis. Soal kemampuan menulis bukanlah barang mewah yang harus mengeluarkan isi kantong maupun isi ATM. Untuk belajar menulis hanya dengan menulis, karena belajar menulis tanpa menulis sama saja menjajah diri.
Penjajahan terhadap diri sendiri adalah kegiatan membaca dan menyampaikan pemikiran tanpa menuliskan. Penjajahan ini bagaikan penjara bagi setiap insan terdidik, karena keilmuan dan pengetahuan yang dimiliki hanya untuknya dan kalangan tertentu. Padahal menyuarakan pemikiran tidak mampu keseluruh pelosok negeri.
Berbeda hal dengan menulis, karya tulis bisa dibaca oleh pembaca siapapun dia. Pembaca baik mahasiswa, pelajar maupun yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah bisa mendapatkan pengetahuan dari tulisan. Artinya dengan menulis kita akan merdeka, tanpa menulis kita masih terjajah.

Orang yang berpengetahuan luas namun tidak mau menuliskan untuk berbagi maka sama saja dengan penjajah bagi rakyat yang harusnya membaca dan belajar dari tulisan. Mari budayakan menulis, karena menulis membutuhkan bahan bacaan dan diskusi. Kemudian, tulisan lahir sebagai bentuk kemerdekaan pribadi-pribadi yang tercerahkan untuk mencerahkan pribadi lain.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar