Senin, 27 Februari 2017

70 Tahun Menjaga Indepedensi

Oleh Andrian Habibi
Fungsionaris Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam


Dalam kehidupan manusia selalu ada jalan untuk menyatakan keberpihakan. Pilihan keberpihakan ini lah yang memunculkan perbedaan. Namun, Tuhan Yang Maha Esa telah menjanjikan bahwa “perbedaan adalah rahmat” bagi umat manusia. Dengan penalaran yang wajar, perbedaan atas keberpihakan dengan rasa syukur dan saling memahami melahirkan kata “persatuan”.

Manusia bisa bersatu untuk mencapai tujuan dengan jalan hidup yang beragam. Dengan demikian makna “bhineka tunggal ika” terasa menyejukkan sanubari setiap insan. Sehingga keberpihakan, perbedaan dan persatuan adalah jalan yang harus dilalui. Tujuannya tentu saja rahmat dari Tuhan.

Namun, kenyataan pahit yang kita hadapi adalah munculnya keberpihakan tanpa mengedepankan niat saling memahami. Kemudian meruncing pada penguatan kata perbedaan. Tanpa disadari, perbedaan demi perbedaan pada akhirnya memecah manusia dengan dasar kepentingan. Disinilah akar masalah muncul yakni disaat kepentingan menjadi dasar pijakan untuk hidup dalam kehidupan. Kepentingan menghancurkan sendi-sendi pesaturan. Lalu meruntuhkan rahmat atas perbedaan.

Sebenarnya, kepentingan lahir karena adanya komunitas atau kelompok tertentu yang memperjelas beda antara satu dengan yang lain. kemudian komunitas tersebut mempengaruhi kehidupan perorangan. Nah, terjadi lah campuran antara kepentingan komunitas dengan pribadi. Kemudian kepentingan-kepentingan ini menolak upaya persatuan kata berbeda.

Memang komunitas tidak salah menjalani kegiatan penghimpunan personal-personal. Akan tetapi, harus ada cara agar perbedaan yang menyatu bisa mencapai tujuan untuk menyepakati kata persatuan. Atas dasar ini muncullah kata indepedensi yang berarti mandiri dan tidak terikat (terkena pengaruh dari luar komunitas). Akan tetapi patut dipertimbangkan kembali bahwa komunitas tetap saja tidak bisa memaksa agar setiap personal menjalani kehidupan dengan aturan yang mengikat.

Indepensi Etis Organisatoris
Demi menjaga perbedaan dalam kemandirian komunitas di ambil pilihan membagi indepedensi menjadi indepedensi etis dan organisatoris. Kita memulainya dengan membahas indepedensi organisatoris. Bahwa sebuah komunitas agar hidup merdeka dan mampu menjaga perbedaan tetapi tetap menyatu dalam ruang bersama (negara). Maka dibutuhkan kebebasan yang merdeka tanpa tunduk pada kata kepentingan politik.

Kepentingan politik komunitas adalah menjamin perbedaan termasuk beda pemikiran dan perbuatan. Sehingga komunitas siap bertarung mencapai tujuan tanpa harus melukai komunitas lain. Karena kepentingan komunitas yang satu menjaga indepedensi organisatorisnya tanpa mempengaruhi indepedensi komunitas lain.

Di sisi lain, dalam komunitas yang sama juga terdiri dari orang-orang yang memiliki cara pandang yang berbeda. Demi menjaga agar orang perorang bisa merdeka namun tidak mencederai persatuan dalam komunitas. Maka setiap orang bebas dalam hal menentukan kepentingan personal. Tentu saja, kepentingan personal sesuai dengan niatan baik yang diterima dari ajaran komunitas tersebut.

Hal ini biasa dikenal dengan independi etis. Kebebasan perorangan atas dasar bahwa manusia lahir dan hidup selalu mendekati kata kebenaran. Lalu, orang perorang menjalani pilihan tindakan sesuai kata kebenaran yang dipahaminya. Dengan demikian, sulit kebenaran dalam diri mengarahkan manusia untuk melakukan hal-hal yang mampu merusak nilai kebenarannya.

Jika setiap orang dalam komunitas mampu menjaga indepedensi organisatoris dan etis sekaligus. Maka sangat mungkin antar komunitas bersatu dalam himpunan yang lebih besar bernama “negara kesatuan” seperti Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun, bagaimana cara menjaga dan memahami indepedensi etis dan organisatoris?

Penulis tidak bermaksud mengatakan bahwa komunitas yang akan ditawarkan adalah satu-satunya jalan mempelajarai, memahami dan menjaga semangat indepedensi menuju persatuan. Namun, komunitas ini bisa menjadi salah satu jalan untuk mempelajari, memahami dan menjaga indepedensi etis sekaligus organisatori.

Komunitas yang penulis maksud adalah Himpunan Mahasiswa Islam. HMI adalah organisasi mahasiswa islam yang didirikan oleh alm. Lafran Pane pada 5 februari 1947. HMI merupakan organisasi kader yang selalu bergerak dalam perjuangan demi mencapai tatanan kehidupan masyarakat madani (sejahtera/bahagia). Sifat organisasinya yang independen menjaga HMI sekaligus kadernya dari potensi kerusakan akibat kepentingan politis baik dari internal maupun eksternal.

Sejak 1947, sudah 70 tahun HMI membuktikan kemampuan menghadapi perubahan zaman pemerintahan Indonesia. Tentu saja, kader HMI terbukti berhasil menjaga independensi organisatoris sekaligus etis (per kader). Tujuan HMI dan kadernya adalah terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Dalam hal mencapai tujuan tersebut, setiap kader diberikan kebebasan dan kemerdekaan untuk menentukan pilihan tindakan perseorangan. Setiap kader berhak menerjemahkan tujuan dalam bentuk teknis kehidupannya. Karena HMI menilai setiap kader siap menjalani hidup yang benar dan sesuai dengan kebenaran. Sehingga teknis yang berbeda tidak mempengaruhi organisasi dalam upaya mencapai tujuan.

70 tahun bukan waktu yang sebentar sebagai tanda pembuktian kata indepedensi. 70 tahun adalah waktu yang diperjuangkan dan mungkin akan tetap bertahan untuk tahun-tahun yang akan datang. Bila setiap waktu kata indepedensi tetap terjaga. Maka harapan mencapai tujuan akan tercapai. Kemudian tidak ada lagi pertikaian akibat perbedaan dan kebebasan menusia. Karena kader HMI siap mengawal perbedaan dengan indepedensi (etis dan organisatori).


Terakhir, mari mengawal negara dan bangsa ini sesuai indepedensi etis dan organisatoris setiap komunitas. Jangan sekali-kali bermanuver dengan berpihak kepada kepentingan perorangan pihak eksternal. Keberpihakan yang independen adalah keberpihakan terhadap kebenaran yang menyatukan tumpah darah manusia Indonesia. Selalu ingat dengan motto “yakin usaha sampai” terus menguatkan semangat menjaga indepedensi. Karena menurut Jendral Besar Soedriman bahwa HMI bukan hanya Himpunan Mahasiswa Islam tetapi juga Harapan Masyarakat Indonesia.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar