Rabu, 16 Agustus 2017

Mengembalikan Kebiasaan Mahasiswa


Mahasiswa dahulu membiasakan beberapa hal penting sebagai pondasi dalam berorganisasi, yakni : membaca, berdiskusi, dan menulis. Ketiga kebiasaan ini lah yang membentuk seorang organisatoris dipandang oleh publik. Dia membiasakan membaca, mendiskusikan apa yang dibaca dan menuliskan apa yang dibaca dan didiskusikan. Tidak harus sih semua yang dibaca wajib dihapal dalam ingatan. Karena tidak semua kader mamiliki daya ingat yang kuat, minimal dia membaca. Akan jadi masalah jika dia tidak pernah membaca atau sedikit membaca tetapi banyak ceramah.

Ini lah yang harus diperhatikan, membaca dan menceramahi terkadang mengerikan. Padahal, apa yang diceramahi harusnya sesuai dengan apa yang dibaca. Akan tetapi, untuk mengurangi kelemahan daya ingat dalam membaca buku. Kebiasaan kedua (baca : diskusi) menjadi pilihan terbaik. Bagi pembaca bisa berbagi bahan bacaan saat berdiskusi dan yang belum berkesempatan membaca menerima informasi baru. Diskusi membuka ruang bagi setiap anggota organisasi untuk saling menguatkan pandangan sehingga memunculkan pemahaman baru terkait teori dan permasalahan kekinian.

Namun, dua kebiasaan belum cukup, butuh yang ketiga yakni menulis. Iya, menuliskan apa yang dibaca dan didiskusikan lebih menguatkan pembahasan dan bermamfaat bagi publik. Bagi orang-orang yang tidak/belum membaca sempat membaca suatu buku/informasi dan tidak turut hadir dalam diskusi bisa mendapatkan informasi yang sama dengan membaca tulisan dari peserta diskusi.

Sehingga, tidak mungkin ada penciplakan ide maupun tulisan karena pembahasan berawal dari bacaan, diskusi lalu dituliskan. Kalaupun ada penciplakan ide/tulisan, itu kemungkinan kekhilafan karena tidak tahu ada yang membahasnya terlebih dahulu. Sebagai contoh : begitu banyak umat manusia yang membaca, berdiskusi lalu menulis. Tentu saja ada beberapa ide dan tulisan yang mirip tanpa disengaja. Kesalahan menulis apabila sudah tahu ada tulisan yang baik dan diciplak sepenuhnya dengan mengganti judul lalu di claim sebagai tulisan pribadi.

Belajar Menulis
Dalam sebuah acara pelatihan menulis opini yang dilaksanakan oleh Leon Agusta Institute bekerjasama dengan Harian Padang Ekspres bisa dijadikan salah satu dari sekian banyak latihan menulis. Disaat itu narasumbernya adalah Bang Nashrian, Pimpinan Redaksi Padang Ekspres (sekarang beraktifitas di Padang TV). Menurut Nashrian, semua orang pemilik akun media sosial baik facebook atau twitter, sebenarnya bisa menulis.

Penulis di facebook atau twitter sangat bebas bahkan panjang tulisan bisa mengisahkan perjalanan hidup si pemilik akun. Jadi, Nashrian menganjurkan agar tulisan di facebook atau twitter di- copy paste ke halaman word. Lalu diedit kembali sampai terasa cukup untuk dikirim ke meja redaksi. Cara ini termasuk mudah dan bisa dikerjakan oleh siapapun.

Sejauh perhatian saya terhadap beberapa akun facebook, ada status-status yang begitu panjang menceritakan sesuatu atau sekedar berpendapat atau berkeluh kesah. Seandainya mereka mengurainya dalam diskusi lalu dituliskan ulang, bisa jadi akan lahir tulisan yang akan diterbitkan oleh koran cetak. Tentu saja, tulisan yang dimuat oleh koran tergantung isu terkini dan kefokusan pengirim tulisan.

Selain itu, nasehat Khairul Fahmi (Akademisi dan Penulis) bahwa cara mudah untuk menulis dengan menuliskan apa yang ingin ditulis. Selama sesuatu hal menggaljal di alam wacana, maka semua bisa menjadi tulisan. Bagi Khairu, menulis dan terus menulis lah agar kita bisa menulis. Kalau keinginan menulis muncul, tetapi kita berhenti di titik “ingin”, tidak akan pernah kita bisa menuliskan apa yang ingin ditulis.


Sebagai catatan penutup, tiga kebiasaan mahasiswa sebagai pembeda masiswa dengan yang tidak berstatus mahasiswa harus dikembalikan. Kita semua (termasuk yang sudah menjadi penulis) memiliki tanggung jawab moral kepada sesama (mahasiswa) agar kebudayaan itu hidup dan berkembang. Jangan pernah menghakimi orang dengan kata “ente tidak bisa menyampaikan pendapat dalam diskusi”, “dirimu tidak pandai menulis”, atau “kapan dirimu pernah membaca?”. Lebih baik merangkul siapapun orangnya untuk mulai membaca, berdiskusi dan menulis.

*catatan : jika pembaca menemukan kalimat atau paragraf yang pernah dituliskan, mohon disampaikan kepada saya untuk mengedit tulisan ini kembali. Begitu juga jika pembaca merasa tulisan ini masih jauh dari kata sempurna, saya akan berusaha memperbaharuinya.

Oleh Andrian Habibi
Penulis masih belajar menulis
Share:

0 komentar:

Posting Komentar